Jumat, 09 Februari 2018

Metode Samawi


Semua metode pembelajaran pada hakekatnya itu baik, adapun ketepatannya dalam mencapai tujuan pembelajaran bergantung pada tepat atau tidaknya metode itu digunakan, dan keterampilan seorang pendidik dalam menyakikannya. Dalam artikel ini akan dibahas suatu metode pembelajaran berasal dari konsep pendidikan Islam dalam perspektif al-Quran atau yang lazim disebut metode samawi.
A.        Pengertian Metode Samawi
Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat diperlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Metode Pembelajaran merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain karena setiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing -masing.
Bertolak dari pemahaman tentang konsep pendidikan Islam dalam perspektif al-Quran, maka metode pendidikan Qurani merupakan suatu bagian penting dalam melaksanakan upaya pendidikan. Al-Quran telah menawarkan sejumlah cara dalam penyampaian nilai-nilai pendidikan, baik dalam aspek pengembangan akal, perasaan, keterampilan, maupun aspek-aspek kemanusian melalui metode Qurani antara lain: metode ibrah-Mauidzah, metode kisah Qurani, metode amtsal.[1]
B.        Prosedur Penggunaan Metode Samawi
Tujuan pendidikan Agama merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh setiap orang yang melaksanakan pendidikan Agama. Karena itu dalam pendidikan agama yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah keimanan yang teguh, sebab dengan adanya keimanan yang teguh itu maka akan menghasilkan ketaatan menjalankan kewajiban agama.
Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk perangkat program pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan selalu menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien.[2]
Berkenaan dengan tugas guru yang sepenuhnya sadar akan kewajiban sebagai seorang pendidik muslim. Berbagai macam metode yang disodorkan dalam pembahasan berikut, perhatian akan ditujukan untuk melihat tiga aspek yaitu:
1.      Hakekat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam yakni membentuk pribadi beriman yang senntiasa siap mengabdi kepada Allah swt.
2.      Mengadakan penelitian tentang aktualisasi metode-metode instruksional yang ditunjukkan al-Quran atau yang dapat dideduksikan kepadanya.
3.       Berkaitan dengan pemberian motivasi atau disiplin tema-tema al-Quran tentang perumpaan, kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman.[3]
Kunci pembentukan karakter dalam proses pendidikan menurut al-Quran menunjukkan bahwa manusia itu lahir dengan fitrah yang baik. Kepercayaan akan adanya fitrah yang baik akan berimplikasi praktis bagi metode-metode yang seharusnya diterapkan dalam proses pembelajaran. Demi tanggungjawabnya, secara implisit pikiran pendidik muslim sungguh-sungguh diarahkan kepada tugas memimpin peserta didik kepada Islam. Dalam suatu kenyatan bahwa Islam itu merupakan satu-satunya agama wahyu. Islam mempertahankan fitrah yang baik, yang tidak boleh berubah atau tergantikan.[4]
C.  Implementasi metode samawi (Qurani) di Sekolah
Berbagai metode tersebut di atas tidak semua akan diuraikan secara detail dalam makalah ini, namun hanya tiga metode yang akan dijabarkan secara terperinci yaitu metode ibrah mauizah , metode qissah, metode amtsal
1.       Hakikat metode ibrah mauizah
a.       Pengertian
Pengertian ibrah dalam Alquran dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk mengambil pelajaran dari pengalaman pengalaman orang lain atau dari peristiwa-peristiwa  yang terjadi pada masa lampau melalui suatu proses berpikir secara mendalam, sehingga menimbulkan kesadaran pada diri seseorang. Menurut al-Nahlawi kedua kata tersebut ibrah dan i’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan dan dihadapi, dengan menggunakan nalar yang menyebabkan hati menyukainya.[5] Adapun Mauizah ialah nasehat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya[6]
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode atau model ibrah ialah suatu cara mengetahui intisari perkara yang dapat membuat kondisi psikis peserta didik, mengetahui intisari perkara yang mempengaruhi perasaannya, yang diambil dari pengalaman-pengalaman orang lain atau pengalaman hidupnya sendiri sehingga sampai pada tahap perenungan, penghayatan dan tafakkur yang dapat menumbuhkan amal perbuatan.
          Penggunaan ibrah dalam Alquran dan Sunnah ternyata berbeda-beda sesuai dengan objek ibrah itu sendiri. Pengambilan ibrah dan kisah hanya akan dapat dicapai oleh orang-orang yang akan berpikir dengan akal dan hatinya seperti firman Allah QS Yusuf/12:111

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ١١١

Terjemahnya:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal[7]
Esensi ibrah dalam ayat ini bahwa Allah berkuasa menyelamatkan yusuf setelah dilemparkan ke dalam sumur yang gelap, meninggikan kedudukannya setelah dijebloskan ke dalam penjara, menjadikannya raja Mesir setelah dijual sebagai budak. Kisah ini menjelaskan bahwa ibrah (pelajaran) dari kisah ini hanya dapat dipahami oleh orang yang disebut ulul al-bab yaitu orang-orang yang berpikir dan berzikir.
Rasyid Ridha, seperti yang dikutip al-Nahlawi tatkala menafsirkan surah al-baqarah, menyimpulkan bahwa mauizah adalah nasehat dengan cara menyentuh kalbu. [8]
            Sekarang kedua pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa nasehat itu harus ikhlas dan berulang-ulang sehingga nasehat itu akan menyentuh qalbu pendengarnya, dengan itu timbul kesan dari pendengar bahwa orang yang menasehati itu memang mempunyai keprihatinan yang dalam terhadap nasib pendengarnya.
1.      Tujuan dan keistimewaan metode ibrah antara lain
a.    Menumbuhkan aqidah tauhid
b.    Mengantarkan pendengar kepada kepuasan berpikir
c.    Menggerakkan dan mendidik perasaan rabbaniyah
d.   Menumbuhkan ketaatan pada perintah Allah
2.      Aplikasi metode ibrah dan mauidzah dalam pengajaran
Metode ibrah dan mauizah diistilahkan oleh al-nahlawi sebagai pendekatan pendidikan keimanan dalam Alquran atau disebut sebagai metode quraniyah yang memiliki berbagai keistimewaan karena adanya keselarasan dan fitrah (potensi) manusia sebagai pendidik dan terdidik.
Sebagai metode quraniyah ibrah dan mauidzah sudah sepatutnya digunakan sebagai metode mendidik manusia dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam dunia pendidikan agama yang sarat dengan nilai . ibrah dan mauizah dapat dipergunakan pendidik dalam mengadakan huubungan dengan peserta didik saat berlangsungnya pelajaran. Peran metode ini sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar dan terciptanya suasana edukatif dalam arti terjadinya pendidikan, tidak hanya terjadi si terdidik tetapi juga bagi pendidik.
Meskipun metode ini memiliki keistimewaan, tetapi dengan keistimewaanya tidak berarti bahwa dengan menggunakan metode ini nilai-nilai religius serta merta terjelma dalam diri manusia, karena terjelmanya nilai-nilai dalam diri manusia terkadang sulit dimengerti.
Penggunaan metode ibrah dan mauizah dapat meliputi sebagian besar antara agama dan bukan agama. Titik tekannya pada materi mengandung unsur-unsur religius seperti ketauhidan, ukhuwah, musyawarah, takaful ijetima, tasamuh, istiqamah, jihad, dan sebagainya. Dengan kata lain, berkaitan dengan materi-materi yang mengandung nilai-nilai yang relevan dengan aturan yang berlaku (Islam), yang kesemua nilai tersebut bertitik tolak dari konsep ajaran Islam yaitu aspek aqidah, syariah, dan akhlak.[9]
2. hakikat metode kisah
a. Pengertian
kata kisah berasal dari bahasa arab, yakni dari kata  “qishah” diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi “kisah” yang berarti cerita. Kisah dalam bahasa Alquran bermakna tarikh (Swjarah) yaitu peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi zaman dahulu. Sedangkan kisah dalam bahasa Indonesia mengandung arti cerita-cerita yang berbau mistik atau legenda yang ada dalam Alquran  disebut “ashatir”.
            Secara terminologi kata “Qishah” Alquran mengandung dua makna yaitu, pertama: Al—Qashash fi al-Quran yang artinya pemberitaan  Alquran Tentang hal ikhwal ummat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun tentang peristiwa-peristiwa yang tejadi pada umat terdahulu. Kedua , “Qashash al-Quran” yang artinya karasteristik kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran . pengertian yang kedua inilah yang dimaksud sebagai metode kisah sebagai metode pendidikan.
b.      Aplikasi metode kisah qurani dalam pendidikan agama Islam disekolah
Jika kisah dalam Alquran disajikan sebagai bahan pelajaran, maka kisah tersebut harus disajikan secara utuh. Namun jika kisah itu dijadikan sebagai metode mengajar, tidak perlu disajikan secara utuh cukup penggalang-penggalang saja, yang dapat dijadikan sebagai alat untuk membawa muridpada suatu situasi pemikiran atau kejiwaan tertentu dalam rangka memancingperhatian dan persaan murid. Penggalang kisah tersebut dapat pula dijadikan sebagai alat untuk membawa murid pada suatu titik kulminasi dalam menghayati nilai-nilai tertentu sesuai dengan muatan bahan pelajaran. Sebagai contoh dalam menanamkan keimanan akan kebesaran Allah, dapat diambil suatu penggalan kisah nabi Ibrahim as. Tatkala bertanya kepada Allah tentang bagaimana cara Allah menghidupkan orang mati QS Albaqarah/2;26. Dari prinsip-prinsip dasar kisah metode di atas dapat pula dikembangkan lebih jauh sampai pada langkah langkah aplikasi dalam berbagai bentuk dan berbagai macam bahan pelajaran sebagaimana yang telah diuraikan pada langkah-langkah ibrah dan mauizah[10]
3.      Hakikat metode amtsal
a.       Pengertian
Amtsal adalah bentuk jamak dari “matsala”, yang artinya membuat pemisahan, perumpamaan dan bandingan sedangkan menurut manna Khalil menyebutkan pengertian amtsal Alquran adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh yang dalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih maupun perkataan bebas[11]
b.      Aplikasi metode amtsal di sekolah
Metode amtsal dapat dimanfaatkan khususnya guru PAI dan guru sejarah dalam kegiatan pembelajaran sebagai materi pelajaran. Sebagaimana firman-Nya QS Azzumar/39:27.:

وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٧

Terjemahnya:
Sesungguhnya kami buatkan bagi manusia dalam Alquran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran[12]
Amtsal Qur’ani disamping digunakan sebagai materi dan metode pendidikan dapat juga dimanfaatkan sebgai media untuk lebih memperjelas pemahaman, membagkitkan semangat, membujuk, melarang mencaci dan tujuan-tujuan pedagogis lainnya sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Sejalan dengan hal ini, rasulullah pun mebuat tamsil dalam hadis-hadisnya. Demikian juga para dai yang menyeru manusia kepada jalan Allah sering menggunakan perumpamaan untuk menunjukkan kebenaran dan memberikan hujjah. Untuk penggunaan metode tersebut seorang guru hendaknya:
1)      Memiliki pemahaman tentang amtsal dalam Alquran secara menyeluruh
2)      Mengetahui tujuan-tujuan pedagogis amtsal
3)      Mampu memilih tujuan pedagogis amtsal yang relevan dengan tujuan pelajaran yang disampaikan
4)      Mampu mencari perumpamaan sendiri yang relevan dengan tujuan pedagogis amtsal dan tujuan pelajaran yang ingin disampaikan
5)      Mampu menunjukkan atau mengungkapkan perumpamaan-perumpamaan itu secara jelas dan mudah dipahami oleh peserta didik
Guru PAI akan memberikan materi pelajaran pokok bahasan tentang infak fisabilillah, siswa diharapkan dapat memahami makna infak yang benar sehingga mampu membedakan anatara infak dijalan Allah dengan infak yang bukan dijalan Allah dan mampu merangsang semangat para siswa untuk berifak dengan cara yang benar dan menghindarkan diri dari praktik berinfak yang tidak benar. Untuk itu guru perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
a)      Guru mengungkapkan pokok bahasan yang hendak disajikan
b)      Guru memberikan pre test secara lisan dan spontan untuk mengukur sejauh mana tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang akan diajarkan, dan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi.
c)      Guru mengangkat ayat-ayat tamsil yang relevan dnegan pokok bahasan
d)     Guru menerangkan konsep infak di jalan Allah dengan media gambar 1 biji yang ditanam secara baik dan benar serta hasil yang akan diperolehnya, lalu menerangkan pula satu biji yang ditanam dengan tidak baik maka hasilnya juga tidak baik
e)      Pada waktu kegiatan berlangsung, ada baiknya jika guru mengembangkan pokok bahasan dengan cara memberikan perumpamaan yang sesuai dengan dunia siswa
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, guru secara kreatif dalam mengambil perumpamaan-perumpamaan dari Alquran seperti menganalogikan masalah berinfak di jalan Allah dengan orang yang menanam sebuah tanaman, bagaimana agar tanaman itu dapat menghasilkan panen yang baik.[13]

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, 2008, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya.
Alim, Muhammad, 2006, Pendidikan Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kementerian Agama, 2010, al-Qur’an dan Tajwid  Cet.X; Bandung: CV. Penerbit di Ponegoro,
Nasir A. Baki, 2014, Metode Pembelajaran Agama Islam. Yogyakarta: Eja Publisher
Rohman, Abdul, 2005, Pendidikan Agama Islam, Purwokerto: Universitas Jendral Soedirman.
Suyanto, Imam, 2005. Pendidikan Agama Islam. Kebumen : FKIP UNS.
Syahidin, 2009, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran Cet. I; Bandung : Alfabeta.
Taufik, Ahmad, 2011, Pendidikan Agama Islam. Surakarta : Yuma Pustaka.


[1]Nasir A. Baki, Metode  Pembelajaran Agama Islam (Cet. I; Yogyakarta: Eja Publisher. 2014), h. 47.
[2]Abdul Rohman, Pendidikan Agama Islam, (Purwokerto: Universitas Jendral Soedirman. 2005),  h. 34.
[3]Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan al-Quran. (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 197-201.
[4]Nasir A. Baki, Metode  Pembelajaran Agama Islam (Cet. I; Yogyakarta: Eja Publisher. 2014), h. 49.
[5]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran (Cet. I; Bandung : Alfabeta. 2009), h. 43
[6]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya. 2008), h. 135.
[7]Kementerian Agama, al-Qur’an dan Tajwid  (Cet.X; Bandung: CV. Penerbit di Ponegoro, 2010), h.248.
[8]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 145
[9]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 146.
[10]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran , h. 97.
[11]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran ,  h. 79.

[12]Kementerian Agama, al-Qur’an dan Tajwid , h.461.

[13]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran,  h. 98-99.

Faktor Lahirnya Bermacam-macam Metode Pembelajaran


Salah satu komponen penting yang menghubungkan pembelajran dengan tujuan pendidikan adalah metode, karena sangat mustahil materi pembelajaran dapat diterima oleh peserta didik tanpa menggunakan metode. Sementara itu, dari sekian banyak materi pembelajaran disetiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, belum lagi tingkat perkembangan kognitif peserta didik serta keragamanya dalam belajar juga berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu faktok munculnya beragam metode pembelajaran. Dalam artikel ini akan dibahas bergam faktor yang melatar belakangi lahirnya beragam metode pembelajaran.
A.    Pendapat Ahli Pendidikan Tentang Faktor-Faktor Lahirnya Bermacam-Macam Metode Pembelajaran
Banyak ahli pendidikan yang berpendapat tentang faktor-faktor lahirnya bermacam-macam metode pembelajaran, di antaranya adalah:
Ahmad Tafsir mengemukakan bahwa ada enam faktor sehingga lahirnya berbagai macam metode pembelajaran, yaitu keadaan murid, tujuan yang hendak dicapai, situsi, alat-alat, kemampuan pengajar, dan sifat bahan pengajaran.[1]
 Abuddin Nata menyatakan bahwa ada lima faktor sehingga lahir berbagai macam metode pembelajaran, yaitu tujuan dan bahan pelajaran, peserta didik, lingkungan, alat dan sumber belajar, dan kesiapan guru.[2]
Ahmad Munjiin Nasih dan Lilik Nur Kholidah mengatakan faktor lahirnya bermacam-macam metode pembelajaran itu ada enam faktor, yaitu tujuan yang hendak dicapai, keadaan peserta didik, bahan pengajaran, situasi pembelajaran, fasilitas dan guru.[3]
Moh. Roqib mengemukakan bahwa dasar-dasar penggunaan metode pendidikan Islam yang penting untuk diperhatikan adalah dasar agamis, biologis, dan psikologis, yang meliputi:
1.       Tujuan pendidikan dan pembelajaran yang akan disampaikan, yang mencakup domain kognitif  (pikir), afektif  (zikir), dan Psikomotorik  (amal) guna mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat.
2.      Peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi dan sekaligus kelemahan individual dan kolektif sesuai dengan kondisi fisik, psikis, dan usianya. Kompleksitas bakat dan minat masing-masing peserta didik harus dilihat dan diperlukan secara humanis dengan cara yang bijak.
3.      Situasi dan kondisi lingkunganpembelajaran, baik dari aspek fisik-materiil, sosial, psikis emosional.
4.      Fasilitas dan media pembelajaran yang bersedia beserta kualitasnya.
5.       Kompetensi pendidik (baik profesional, pedagogis, sosial, maupun kepribadiannya).[4]
B.     Faktor-Faktor Lahirnya Bermacam-Macam Metode Pembelajaran
Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat diuraikan faktor-faktor lahirnya bermacam-macam metode pembelajaran sebagai berikut:
1.      Guru
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan.[5] Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal I Ayat I dijelaskan bahwa:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas itama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peseta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[6]

Guru sebagai pemegang otonomi kelas atau pelaku reformasi kelas dapat melaksanakan peranannya sebagai berikut:
a.    Guru sebagai pendidik, yaitu guru memiliki kewajiban untuk melakukan reformasi kelas sehingga diberi otonomi untuk melakukan inovasi dan perunahan di lingkungan kelasnya.
b.    Guru sebagai pengajar, mengajar merupakan proses menyampaikan tansmisi dan transformasi sistem nilai kepada peserta didik.
c.    Guru sebagai pemimpin, yaitu memiliki kelebihan dan kemampuan sehingga dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
d.   Guru sebagai supervisor, dalam menjalankan tugasnya guru merupakan sosok pribadi yang profesional, yang siap berkooperatif untik membantu mitra kerjanya dalam meningkatkan kompetensinya.
e.    Gurun sebagai administrator, yaitu bertanggung jawab dalam perencanaan, pelasanaan, penilaian dan menentukan tindak lanjut kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas.[7]
Guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran ternyata perlu memiliki pengetahuan psikologi agar dapat memahmi tingkah laku atau krakteristik peserta didiknya. Kemampuan memahami tingkah laku belajar peserta didik akan memberi penjelasan bahwa anak sedang dalam keadaan belajar dengan baik atau tidak, kemampuan ini dapat mengukur kemampuan belajar dan kemampuan menerima materi pelajaran.[8] Dengan demikian guru dapat miningkatkan kemampuan belajar peserta didik sesuai potensi yang dimilikinya dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.
Guru harus memiliki misi yang tepat dan berbagai aksi inivatif. Guru dengan visi yang tepat memiliki pandangan yang tepoat tentang pendidikan. Ondi Saondi dan Aris Suherman menjelaskan bahwa guru yang memiliki visi yag tepat memiliki pandangan yang tepat tentang pembelajaran yaitu:
a.       Pembelajaran merupakan jantung dalam proses pendidikan sehingga berkualitas pendidikan terletak pada kualitas pembelajarannya bukan pada aksesoris sekolah.
b.      Pembelajaran tidak akan menjadi baik dengan sendirinya, melainkan melalui proses unovasi tertentu sehingga guru dituntut untuk melaksanakan berbagai pembaharuan dala hal pendekatan, metode, teknik, strategi, langkah-langkah, media pembelajaran mengubah “status quo” agar poembelajaran menjadi lebih berkualitas.
c.       Harus dilaksanakan atas dasar pengabdian, sebagaimana pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah pengabdian bukan sebuah proyek.[9] 
Guru harus memiliki perspektif atau cara memandang tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru yang komprehensif. Keberadaaan visi bagi guru merupakan ketercapaian predikat guru yang pprofesional yang harus mengikuti irama perkembangan dan perubahan pembelajaran serta menciptakan metode pembelajaran yang tepat.
2.      Tujuan yang Hendak Dicapai
Sebagiman diketahui bahwa setiap proses pembelajaran menargetkan tujuan tertentu, seperti tujuan yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik. Setiap kompetensi dasar memberikan petunjuk bagaimana penetapan metode,  baik dalam bentuk tanda-tanda yang jelas maupun tanda-tanda yang masih tersembunyi sehingga memerlukan pengakajian secara seksama. Tanda- tanda tersebut akan diperoleh apabila tujuan telah dirumuskan secara jelas sehingga memperlihatkan tingkat-tingkat kemampuan yang diharapkan dari setiap aspek yang bersangkutan.
Tujuan yang jelas adalah hasil belajar yang akan dicapai, sedangkan yang dimaksud dengan tingkat kemampuan adalah deskripsi tentang bentuk-bentuk hasil belajar tersebut. Tujuan hendaknya dijadikan tumpuan perhatian karena akan memberikan arah dalam memp[erhitungkan efektivitas metode yang digunakan. Ketika metode yang digunakan dalam pembelajaran tidak sesuai denga tujuan, maka dapat dipastikan merupakan kerja sia-sia. Karena tidak adanya keguanaan untuk keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tersebut.
Tujuan memilikinilai yang sanagat penting dalam pemvbelajaran, bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan merupakan faktor yang penting dalam kegiatan dan proses pembelajaran. Oemar Hamalik menjelaskn ada beberapa nilai tujuan dalam pengajaran, salah satu nilai tersebut adalah tujuan pendidikan memberikan pedoman atau petunjuk kepada guru dalam rangka memilih dan menentukan metode mengajar atau menyediakan lingkangan belajar bagi siswa.[10] 
3.      Bahan/Materi Pembelajaran
Pendidikan dalam menetapkan metode pembelajaran hendaknay memperhatikan bahan pembelajaran, baik isi, sifat maupun cakupannya. Pendidik hendaknya mampu menguraikan bahan pembelajaran, apakah hanya bersifat fakta-fakta dan kecakapan-kecakapan yang hanya membutuhkan daya mental untuk menguasainya atau berisi keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang membutuhkan penguasaan secara motorik.
Setelah menginventaris bahan pembelajaran, pendidik dapat segera menentukan metode-metode yang mempunyai krakteristik yang sesuai dengan bahan pembelajaran yang dimaksud, yang kemudian mempraktekkannya dalam pembelajaran. Perlunya inventarisir materi pemeblajaran, karena materi pembelajaran agama Islam cakupannya cukup luas yang dimulai dari Aqidah, Akhlaq, Qur’an Hadis, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam. Semua materi pembelajaran tersebut memerlukan metidde yang berbeda denga materi yang lain dalam pemebelajaran.
4.      Keadaan Peserta Didik
Peserta didik mimiliki latar belakang kecerdasan, bakat, minat, dan kecenderungan yang berbeda-beda, demikian sikap kejiawaan, sehngga seorang pendidik hendaknya dalam menerapkan metode pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik, baik secar kelompok maupun secara individu. Pendidik hendaknya tidak memaksakan peserta didik untuk bergerak  dala aktifitas belajar menerut acuan metode, karena pemaksaaan tidak mengahsilkan apa-apa akan tetapi merusak perkembangan peserta didik.
Terdapat tiga tipologi gaya belajar peserta didik, pertama; tipe visual yaitu peserta didik yang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat seperti warna, hubungan ruang dan gambar. Kedua; tipe auditorial yaitu peserta didik yang tertarik pada segala jenis bunyi seperti musik, dialog dan suara. Ketiga; tipe motorik atau kinesterik  yaitu peserta didik yang tertarik pada segala jenis gerakan dan emosi, baik yang diciptakan maupun yang diingat, seperti gerakan koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik.[11] 
Disadari ataun tidak disadari ketiga tipe tersebut merupakan modal besar yang dimiliki peserta didik. Pada kenyataannya setiap peserta didik memiliki ketiganya, hanya biasanya tipe tertentu yang lebih tampak dominan dibandingkan dengan tipe yang lain. Pendidik hendaknya memahami hal tersebut, sehingga dapat memaksimalkan semua tipe belajar yang dimiliki peserta didik dengan menerapkan berbagai metode dalam pembelajaran sehingga tidak ada peserta didik yang dirugikan.
Penentuan yang sangat penting dalam menerapkan metode dan melalui pembelajaran adalah mengetahui tingkah laku awal peserta didik . ada empat konsep yang erat kaitannya dengan tingkah laku awal, yaitu kesiapan, kematangan, perbedaan individual ddan kepribadian.[12] Konsep yang dimaksud adalah mengethui kesiapan menerima materi, kematangan dalam berpikir, perbedaan-perbedaan sifat dan ingkah laku peserta didik.  


5.      Situasi Pembelajaran
Situasi belajar mencakup kondisi lingkungan sekitar, suasana dan keadaan peserta didik serta guru. Seperti bagaiman keadaan peserta didik, apakah mereka masih bersemangat atau sudah lelah dalam belajar, keadaan cuaca cerah atau hujan, keadaan guru yang sudah lelah atau sedang mengahadapi masalah. Situasi-situasi itu dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Situasi yang dapat diperhitungkan sebelumnya. Dalam situasi ini guru dapat melaksanakan pemebelajaran.
b.      Situasi yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Berbagai kemungkinan dapat terjadi dan kenyataan dapat terjadi diluar perhitungan. Guru hendak menyadari adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut, oleh karena itu guru hendaknya memiliki kecekatan dan kesiagapan untuk mengambil keputusan denga segera mengenai metode-metode yang akan digunakan.[13]    
Dewi salma Prawiradilaga berkenaan dengan situasi pembelajaran menyatakan bahwa apapun desain pembelajaran dan mata ajar yang disampaikan, perlu kiranya diketahui bahwa yang sebenarnya dilakukan oleh para desainer adalah menciptakan situsi belajar yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan peserta didik mersa nyaman dan termotivasi dalam proses belajarnya.[14]
Situasi pembelajaran yang kondusif sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar peserta didik. Peserta didik sebelum dan selama belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik fisik maupun mental. Misalnya kelelahan secara fisik, mengantuk, bosan atau jenuh yang menghinggapi peserta didik dapat mengurangi konsentrasi belajar peserta didik. Kelelahan mental karena terlalu banyak belajar juga dapat mengurangi daya tangkap peserta didik untuk memahami materi pelajaran selanjutnya.
6.      Fasilitas
Secara garis besar fasilitas sekolah terbagi menjadi dua, yaitu:
a.       Fasilitas fisik, seperti: ruang dan perlengkapan belajar, alat peraga, buku dan perpustakaan, laboratorium dan alat berbagai praktikum, serta sarana keagamaan, kesenian dan olahraga.
b.      Fasilitas non fisik, seperti kesempatan, biaya dan berbagai aturan serta kebijakan pimpinan sekolah.
Semua sekolah tentu memiliki fasilitas, hanya saja ada sekolah yang memiliki fasilitas lengkap sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, dan ada pula sekolah yang hanya memilii fasilitas sedikit atau tidak lengkap. Guru dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya memperhitungkan fasilitas dalam menetapkan metode yang akan digunakannya. Guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Guru mengetahui fasilitas apa saja yang tersedia di sekolah serata bagaimana memperoleh dan menggunakannya.
b.      Guru yang tidak cakap menggunakan fasilitas tertentu atau tidak mampu menerapkannya pada metode yang sesuai, meskipun fasilitas memadai, maka pembelajaran akan terganggu. Sebaliknya guru yang cakap dan kreatif akan dapat memanfaatkan fasilitas yang minim untuk mengefektifkan pembelajaran.[15]
Dengan demikian guru sebelum menentukan metode yang akan diterapkan dalam pembelajaran harus mengobservasi terlebih dahulu fasilitas atau sarana yang tersedia. Denjngan demikian seorang pendidik mengetahui dan memahami bagaimana menentukan metode yang dapat dilakukan secara maksimal dan tidak terhambat oleh tidak tersedianya fasilitas pembelajaran. Penentuan memilih metode yang tepat terkait erat dengan fasilitas yang tersedia di sekolah.
Abuddin Nata berpendapat bahwa berbagai metode muncul karena berbagai faktor, antara lain:
a.       Adanya berbagai macam ilmu dan keterampilan yang akan diajarkan yang menghendaki kesesuaian dengan metode yang akan digunakan.
b.      Adanya berbagai tingkatan usia dan kecerdasan peserta didik menyebabkan perbedaan ciri-ciri kejiwaan yang selanjutnya menghendaki adanya pengguna metode yang tepat.
c.       Adanya berbagai situasi dan kondisi yang menghendaki adanya penggunaan metode yang relevan.
d.      Ketersediaan, kelengkapan atau kekurangan sarana dan prasarana yang mneghendaki adanya kesesuaian dengan metode yang akan digunakan .
e.      Penguasaan para guru yang ada dalam menggunakan berbagai metode tersebut.[16]

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemhnya
Arifin, M, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan pendekatan IterdisiplinerJakarta: Bumi Aksara, 2003.
Getteng, Abd. Rahman, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika, Yogyakarta: Graha Guru, 2011.
Hamalik. Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Hanafiah, Nanang dan Cucu Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran, Bandung: Refika Aditama, 2010.
Nasih, Ahmad Munjiin dan Lilik Nur Kholidah, Metode ndan Teknik Pembelajaran Agama Islam, Bandung: Refika Aditama, 2009.
Nata, Abuddin, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009.
-------------------, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010.
Omar, Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Ondi, Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan, Bandungb: Refika Aditama, 2010.
Prawiradilaga, Dewi Salma, Prinsip Disainer pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2009.
Roqib, Moh, Ilmu Pendidikan Islam: pengembangan Pendidikan Integratif  di Sekolah, Keluarga,dan Masyarakat, Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang, 2009.
Sagala, Syaeful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2010.
Suryosubroto,  B, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Qur’an, Bandung: Alfa Beta, 2009.
Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam , Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Undang-Undang RI, Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.




[1]Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam  (Cet. IX; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 33-34.
[2]Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran  (Cet. I; Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009), h.199-202.
[3]Ahmad Munjiin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode ndan Teknik Pembelajaran Agama Islam  (Cet. I; Bandung: Refika Aditama, 2009), h. 40-46
[4]Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: pengembangan Pendidikan Integratif  di Sekolah, Keluarga,dan Masyarakat  (Cet. I; Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang, 2009), h. 94.
[5]Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika (Cet. III; yogyakarta: Graha Guru, 2011), h. 8.
[6]Undang-Undang RI, Undang-Undang Guru dan Dosen (Cet. III; Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h. 3.
[7]Nanang Hanafiah dan Cucu Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran  (Cet. II; Bandung: Refika Aditama, 2010), h. 108 
[8]Syaeful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran  (Cet. VIII; Bandung: Alfabeta, 2010), h. 133.
[9]Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan  (Cet. I; Bandungb: Refika Aditama, 2010), h. 56.
[10]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar  (Cet. X; Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 80.
[11]Ahmad Munjin Nasih dan Lilik nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam , h. 41.
[12]Omar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem  (Cet. VIII; Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 40-41.
[13]Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam, h. 44.
[14]Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disainer pembelajaran  (Cet. III; Jakarta : Kencana, 2009), h. 17.  
[15]Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disainer pembelajaran , h. 17.  
[16]Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam  (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2010), h. 152.