Salah
satu komponen penting yang menghubungkan pembelajran dengan tujuan pendidikan
adalah metode, karena sangat mustahil materi pembelajaran dapat diterima oleh
peserta didik tanpa menggunakan metode. Sementara itu, dari sekian banyak
materi pembelajaran disetiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik yang
berbeda-beda, belum lagi tingkat perkembangan kognitif peserta didik serta
keragamanya dalam belajar juga berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu
faktok munculnya beragam metode pembelajaran. Dalam artikel ini akan dibahas
bergam faktor yang melatar belakangi lahirnya beragam metode pembelajaran.
A.
Pendapat Ahli Pendidikan Tentang
Faktor-Faktor Lahirnya Bermacam-Macam Metode Pembelajaran
Banyak
ahli pendidikan yang berpendapat tentang faktor-faktor lahirnya bermacam-macam
metode pembelajaran, di antaranya adalah:
Ahmad
Tafsir mengemukakan bahwa ada enam faktor sehingga lahirnya berbagai macam
metode pembelajaran, yaitu keadaan murid, tujuan yang hendak dicapai, situsi,
alat-alat, kemampuan pengajar, dan sifat bahan pengajaran.[1]
Abuddin Nata menyatakan bahwa ada lima faktor
sehingga lahir berbagai macam metode pembelajaran, yaitu tujuan dan bahan
pelajaran, peserta didik, lingkungan, alat dan sumber belajar, dan kesiapan
guru.[2]
Ahmad
Munjiin Nasih dan Lilik Nur Kholidah mengatakan faktor lahirnya bermacam-macam
metode pembelajaran itu ada enam faktor, yaitu tujuan yang hendak dicapai,
keadaan peserta didik, bahan pengajaran, situasi pembelajaran, fasilitas dan
guru.[3]
Moh.
Roqib mengemukakan bahwa dasar-dasar penggunaan metode pendidikan Islam yang
penting untuk diperhatikan adalah dasar agamis, biologis, dan psikologis, yang meliputi:
1. Tujuan
pendidikan dan pembelajaran yang akan disampaikan, yang mencakup domain kognitif (pikir), afektif (zikir), dan Psikomotorik (amal) guna mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan
hidup dunia akhirat.
2.
Peserta didik sebagai manusia yang
memiliki potensi dan sekaligus kelemahan individual dan kolektif sesuai dengan
kondisi fisik, psikis, dan usianya. Kompleksitas bakat dan minat masing-masing
peserta didik harus dilihat dan diperlukan secara humanis dengan cara yang
bijak.
3.
Situasi dan kondisi
lingkunganpembelajaran, baik dari aspek fisik-materiil, sosial, psikis
emosional.
4.
Fasilitas dan media pembelajaran yang
bersedia beserta kualitasnya.
B.
Faktor-Faktor Lahirnya Bermacam-Macam
Metode Pembelajaran
Dari
pendapat-pendapat di atas, maka dapat diuraikan faktor-faktor lahirnya
bermacam-macam metode pembelajaran sebagai berikut:
1.
Guru
Guru
merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun
idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk
mengimplementasikannya maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu
alat pendidikan.[5]
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen Bab I Pasal I Ayat I dijelaskan bahwa:
Guru adalah pendidik profesional dengan
tugas itama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peseta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[6]
Guru
sebagai pemegang otonomi kelas atau pelaku reformasi kelas dapat melaksanakan
peranannya sebagai berikut:
a.
Guru sebagai pendidik, yaitu guru
memiliki kewajiban untuk melakukan reformasi kelas sehingga diberi otonomi
untuk melakukan inovasi dan perunahan di lingkungan kelasnya.
b.
Guru sebagai pengajar, mengajar
merupakan proses menyampaikan tansmisi dan transformasi sistem nilai kepada
peserta didik.
c.
Guru sebagai pemimpin, yaitu memiliki
kelebihan dan kemampuan sehingga dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik
dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
d.
Guru sebagai supervisor, dalam
menjalankan tugasnya guru merupakan sosok pribadi yang profesional, yang siap
berkooperatif untik membantu mitra kerjanya dalam meningkatkan kompetensinya.
e. Gurun
sebagai administrator, yaitu bertanggung jawab dalam perencanaan, pelasanaan,
penilaian dan menentukan tindak lanjut kegiatan proses pembelajaran di dalam
kelas.[7]
Guru
dalam melaksanakan tugas pembelajaran ternyata perlu memiliki pengetahuan
psikologi agar dapat memahmi tingkah laku atau krakteristik peserta didiknya.
Kemampuan memahami tingkah laku belajar peserta didik akan memberi penjelasan
bahwa anak sedang dalam keadaan belajar dengan baik atau tidak, kemampuan ini
dapat mengukur kemampuan belajar dan kemampuan menerima materi pelajaran.[8]
Dengan demikian guru dapat miningkatkan kemampuan belajar peserta didik sesuai
potensi yang dimilikinya dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.
Guru
harus memiliki misi yang tepat dan berbagai aksi inivatif. Guru dengan visi
yang tepat memiliki pandangan yang tepoat tentang pendidikan. Ondi Saondi dan
Aris Suherman menjelaskan bahwa guru yang memiliki visi yag tepat memiliki
pandangan yang tepat tentang pembelajaran yaitu:
a.
Pembelajaran merupakan jantung dalam
proses pendidikan sehingga berkualitas pendidikan terletak pada kualitas
pembelajarannya bukan pada aksesoris sekolah.
b.
Pembelajaran tidak akan menjadi baik
dengan sendirinya, melainkan melalui proses unovasi tertentu sehingga guru
dituntut untuk melaksanakan berbagai pembaharuan dala hal pendekatan, metode,
teknik, strategi, langkah-langkah, media pembelajaran mengubah “status quo”
agar poembelajaran menjadi lebih berkualitas.
c. Harus
dilaksanakan atas dasar pengabdian, sebagaimana pandangan bahwa pendidikan
merupakan sebuah pengabdian bukan sebuah proyek.[9]
Guru
harus memiliki perspektif atau cara memandang tentang tugas dan tanggung
jawabnya sebagai guru yang komprehensif. Keberadaaan visi bagi guru merupakan
ketercapaian predikat guru yang pprofesional yang harus mengikuti irama
perkembangan dan perubahan pembelajaran serta menciptakan metode pembelajaran
yang tepat.
2.
Tujuan yang Hendak Dicapai
Sebagiman
diketahui bahwa setiap proses pembelajaran menargetkan tujuan tertentu, seperti
tujuan yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik. Setiap kompetensi
dasar memberikan petunjuk bagaimana penetapan metode, baik dalam bentuk tanda-tanda yang jelas
maupun tanda-tanda yang masih tersembunyi sehingga memerlukan pengakajian
secara seksama. Tanda- tanda tersebut akan diperoleh apabila tujuan telah
dirumuskan secara jelas sehingga memperlihatkan tingkat-tingkat kemampuan yang
diharapkan dari setiap aspek yang bersangkutan.
Tujuan
yang jelas adalah hasil belajar yang akan dicapai, sedangkan yang dimaksud
dengan tingkat kemampuan adalah deskripsi tentang bentuk-bentuk hasil belajar
tersebut. Tujuan hendaknya dijadikan tumpuan perhatian karena akan memberikan
arah dalam memp[erhitungkan efektivitas metode yang digunakan. Ketika metode
yang digunakan dalam pembelajaran tidak sesuai denga tujuan, maka dapat
dipastikan merupakan kerja sia-sia. Karena tidak adanya keguanaan untuk
keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tersebut.
Tujuan
memilikinilai yang sanagat penting dalam pemvbelajaran, bahkan dapat dikatakan
bahwa tujuan merupakan faktor yang penting dalam kegiatan dan proses
pembelajaran. Oemar Hamalik menjelaskn ada beberapa nilai tujuan dalam
pengajaran, salah satu nilai tersebut adalah tujuan pendidikan memberikan
pedoman atau petunjuk kepada guru dalam rangka memilih dan menentukan metode
mengajar atau menyediakan lingkangan belajar bagi siswa.[10]
3.
Bahan/Materi Pembelajaran
Pendidikan
dalam menetapkan metode pembelajaran hendaknay memperhatikan bahan
pembelajaran, baik isi, sifat maupun cakupannya. Pendidik hendaknya mampu
menguraikan bahan pembelajaran, apakah hanya bersifat fakta-fakta dan
kecakapan-kecakapan yang hanya membutuhkan daya mental untuk menguasainya atau
berisi keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang membutuhkan penguasaan secara
motorik.
Setelah
menginventaris bahan pembelajaran, pendidik dapat segera menentukan
metode-metode yang mempunyai krakteristik yang sesuai dengan bahan pembelajaran
yang dimaksud, yang kemudian mempraktekkannya dalam pembelajaran. Perlunya
inventarisir materi pemeblajaran, karena materi pembelajaran agama Islam
cakupannya cukup luas yang dimulai dari Aqidah, Akhlaq, Qur’an Hadis, Fiqih dan
Sejarah Kebudayaan Islam. Semua materi pembelajaran tersebut memerlukan metidde
yang berbeda denga materi yang lain dalam pemebelajaran.
4.
Keadaan Peserta Didik
Peserta
didik mimiliki latar belakang kecerdasan, bakat, minat, dan kecenderungan yang
berbeda-beda, demikian sikap kejiawaan, sehngga seorang pendidik hendaknya
dalam menerapkan metode pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan
peserta didik, baik secar kelompok maupun secara individu. Pendidik hendaknya
tidak memaksakan peserta didik untuk bergerak
dala aktifitas belajar menerut acuan metode, karena pemaksaaan tidak
mengahsilkan apa-apa akan tetapi merusak perkembangan peserta didik.
Terdapat
tiga tipologi gaya belajar peserta didik, pertama; tipe visual yaitu
peserta didik yang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat seperti warna,
hubungan ruang dan gambar. Kedua; tipe auditorial yaitu peserta didik
yang tertarik pada segala jenis bunyi seperti musik, dialog dan suara. Ketiga;
tipe motorik atau kinesterik
yaitu peserta didik yang tertarik pada segala jenis gerakan dan emosi,
baik yang diciptakan maupun yang diingat, seperti gerakan koordinasi, irama,
tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik.[11]
Disadari
ataun tidak disadari ketiga tipe tersebut merupakan modal besar yang dimiliki
peserta didik. Pada kenyataannya setiap peserta didik memiliki ketiganya, hanya
biasanya tipe tertentu yang lebih tampak dominan dibandingkan dengan tipe yang
lain. Pendidik hendaknya memahami hal tersebut, sehingga dapat memaksimalkan
semua tipe belajar yang dimiliki peserta didik dengan menerapkan berbagai
metode dalam pembelajaran sehingga tidak ada peserta didik yang dirugikan.
Penentuan
yang sangat penting dalam menerapkan metode dan melalui pembelajaran adalah
mengetahui tingkah laku awal peserta didik . ada empat konsep yang erat
kaitannya dengan tingkah laku awal, yaitu kesiapan, kematangan, perbedaan
individual ddan kepribadian.[12]
Konsep yang dimaksud adalah mengethui kesiapan menerima materi, kematangan
dalam berpikir, perbedaan-perbedaan sifat dan ingkah laku peserta didik.
5.
Situasi Pembelajaran
Situasi
belajar mencakup kondisi lingkungan sekitar, suasana dan keadaan peserta didik
serta guru. Seperti bagaiman keadaan peserta didik, apakah mereka masih
bersemangat atau sudah lelah dalam belajar, keadaan cuaca cerah atau hujan,
keadaan guru yang sudah lelah atau sedang mengahadapi masalah. Situasi-situasi
itu dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.
Situasi yang dapat diperhitungkan
sebelumnya. Dalam situasi ini guru dapat melaksanakan pemebelajaran.
b. Situasi
yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Berbagai kemungkinan dapat terjadi
dan kenyataan dapat terjadi diluar perhitungan. Guru hendak menyadari adanya
kemungkinan-kemungkinan tersebut, oleh karena itu guru hendaknya memiliki
kecekatan dan kesiagapan untuk mengambil keputusan denga segera mengenai
metode-metode yang akan digunakan.[13]
Dewi
salma Prawiradilaga berkenaan dengan situasi pembelajaran menyatakan bahwa
apapun desain pembelajaran dan mata ajar yang disampaikan, perlu kiranya
diketahui bahwa yang sebenarnya dilakukan oleh para desainer adalah menciptakan
situsi belajar yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan
peserta didik mersa nyaman dan termotivasi dalam proses belajarnya.[14]
Situasi
pembelajaran yang kondusif sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar
peserta didik. Peserta didik sebelum dan selama belajar dapat dipengaruhi oleh
berbagai faktor baik fisik maupun mental. Misalnya kelelahan secara fisik,
mengantuk, bosan atau jenuh yang menghinggapi peserta didik dapat mengurangi
konsentrasi belajar peserta didik. Kelelahan mental karena terlalu banyak
belajar juga dapat mengurangi daya tangkap peserta didik untuk memahami materi
pelajaran selanjutnya.
6.
Fasilitas
Secara garis besar fasilitas sekolah
terbagi menjadi dua, yaitu:
a.
Fasilitas fisik, seperti: ruang dan
perlengkapan belajar, alat peraga, buku dan perpustakaan, laboratorium dan alat
berbagai praktikum, serta sarana keagamaan, kesenian dan olahraga.
b.
Fasilitas non fisik, seperti
kesempatan, biaya dan berbagai aturan serta kebijakan pimpinan sekolah.
Semua
sekolah tentu memiliki fasilitas, hanya saja ada sekolah yang memiliki fasilitas
lengkap sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, dan ada pula sekolah yang hanya
memilii fasilitas sedikit atau tidak lengkap. Guru dalam melaksanakan
pembelajaran hendaknya memperhitungkan fasilitas dalam menetapkan metode yang
akan digunakannya. Guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Guru mengetahui fasilitas apa saja yang
tersedia di sekolah serata bagaimana memperoleh dan menggunakannya.
b. Guru
yang tidak cakap menggunakan fasilitas tertentu atau tidak mampu menerapkannya
pada metode yang sesuai, meskipun fasilitas memadai, maka pembelajaran akan
terganggu. Sebaliknya guru yang cakap dan kreatif akan dapat memanfaatkan
fasilitas yang minim untuk mengefektifkan pembelajaran.[15]
Dengan
demikian guru sebelum menentukan metode yang akan diterapkan dalam pembelajaran
harus mengobservasi terlebih dahulu fasilitas atau sarana yang tersedia.
Denjngan demikian seorang pendidik mengetahui dan memahami bagaimana menentukan
metode yang dapat dilakukan secara maksimal dan tidak terhambat oleh tidak
tersedianya fasilitas pembelajaran. Penentuan memilih metode yang tepat terkait
erat dengan fasilitas yang tersedia di sekolah.
Abuddin
Nata berpendapat bahwa berbagai metode muncul karena berbagai faktor, antara
lain:
a.
Adanya berbagai macam ilmu dan
keterampilan yang akan diajarkan yang menghendaki kesesuaian dengan metode yang
akan digunakan.
b.
Adanya berbagai tingkatan usia dan
kecerdasan peserta didik menyebabkan perbedaan ciri-ciri kejiwaan yang
selanjutnya menghendaki adanya pengguna metode yang tepat.
c.
Adanya berbagai situasi dan kondisi
yang menghendaki adanya penggunaan metode yang relevan.
d.
Ketersediaan, kelengkapan atau
kekurangan sarana dan prasarana yang mneghendaki adanya kesesuaian dengan
metode yang akan digunakan .
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
dan Terjemhnya
Arifin, M, Ilmu Pendidikan Islam
Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan pendekatan IterdisiplinerJakarta:
Bumi Aksara, 2003.
Getteng, Abd. Rahman, Menuju Guru
Profesional dan Ber-Etika, Yogyakarta: Graha Guru, 2011.
Hamalik. Oemar, Proses Belajar
Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Hanafiah, Nanang dan Cucu Suhada, Konsep
Strategi Pembelajaran, Bandung: Refika Aditama, 2010.
Nasih, Ahmad Munjiin dan Lilik Nur
Kholidah, Metode ndan Teknik Pembelajaran Agama Islam, Bandung: Refika
Aditama, 2009.
Nata, Abuddin, Perspektif Islam tentang
Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009.
-------------------, Ilmu Pendidikan
Islam, Jakarta: Kencana, 2010.
Omar, Hamalik, Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Ondi, Saondi dan Aris Suherman, Etika
Profesi Keguruan, Bandungb: Refika Aditama, 2010.
Prawiradilaga, Dewi Salma, Prinsip
Disainer pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2009.
Roqib, Moh, Ilmu Pendidikan Islam:
pengembangan Pendidikan Integratif di
Sekolah, Keluarga,dan Masyarakat, Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang,
2009.
Sagala, Syaeful, Konsep dan Makna
Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2010.
Suryosubroto, B, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta:
Rineka Cipta, 2002.
Syahidin, Menelusuri Metode
Pendidikan dalam al-Qur’an, Bandung: Alfa Beta, 2009.
Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran
Agama Islam , Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Undang-Undang RI, Undang-Undang Guru
dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.
[1]Ahmad Tafsir, Metodologi
Pengajaran Agama Islam (Cet. IX;
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 33-34.
[2]Abuddin Nata, Perspektif
Islam tentang Strategi Pembelajaran (Cet. I; Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,
2009), h.199-202.
[3]Ahmad Munjiin Nasih dan
Lilik Nur Kholidah, Metode ndan Teknik Pembelajaran Agama Islam (Cet. I; Bandung: Refika Aditama, 2009), h.
40-46
[4]Moh. Roqib, Ilmu
Pendidikan Islam: pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga,dan Masyarakat (Cet. I; Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang,
2009), h. 94.
[5]Abd. Rahman Getteng, Menuju
Guru Profesional dan Ber-Etika (Cet. III; yogyakarta: Graha Guru, 2011), h.
8.
[7]Nanang Hanafiah dan Cucu
Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran (Cet.
II; Bandung: Refika Aditama, 2010), h. 108
[9]Ondi Saondi dan Aris
Suherman, Etika Profesi Keguruan
(Cet. I; Bandungb: Refika Aditama, 2010), h. 56.
[12]Omar Hamalik, Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem
(Cet. VIII; Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 40-41.
[14]Dewi Salma Prawiradilaga,
Prinsip Disainer pembelajaran
(Cet. III; Jakarta : Kencana, 2009), h. 17.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar