Jumat, 09 Februari 2018

Faktor Lahirnya Bermacam-macam Metode Pembelajaran


Salah satu komponen penting yang menghubungkan pembelajran dengan tujuan pendidikan adalah metode, karena sangat mustahil materi pembelajaran dapat diterima oleh peserta didik tanpa menggunakan metode. Sementara itu, dari sekian banyak materi pembelajaran disetiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, belum lagi tingkat perkembangan kognitif peserta didik serta keragamanya dalam belajar juga berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu faktok munculnya beragam metode pembelajaran. Dalam artikel ini akan dibahas bergam faktor yang melatar belakangi lahirnya beragam metode pembelajaran.
A.    Pendapat Ahli Pendidikan Tentang Faktor-Faktor Lahirnya Bermacam-Macam Metode Pembelajaran
Banyak ahli pendidikan yang berpendapat tentang faktor-faktor lahirnya bermacam-macam metode pembelajaran, di antaranya adalah:
Ahmad Tafsir mengemukakan bahwa ada enam faktor sehingga lahirnya berbagai macam metode pembelajaran, yaitu keadaan murid, tujuan yang hendak dicapai, situsi, alat-alat, kemampuan pengajar, dan sifat bahan pengajaran.[1]
 Abuddin Nata menyatakan bahwa ada lima faktor sehingga lahir berbagai macam metode pembelajaran, yaitu tujuan dan bahan pelajaran, peserta didik, lingkungan, alat dan sumber belajar, dan kesiapan guru.[2]
Ahmad Munjiin Nasih dan Lilik Nur Kholidah mengatakan faktor lahirnya bermacam-macam metode pembelajaran itu ada enam faktor, yaitu tujuan yang hendak dicapai, keadaan peserta didik, bahan pengajaran, situasi pembelajaran, fasilitas dan guru.[3]
Moh. Roqib mengemukakan bahwa dasar-dasar penggunaan metode pendidikan Islam yang penting untuk diperhatikan adalah dasar agamis, biologis, dan psikologis, yang meliputi:
1.       Tujuan pendidikan dan pembelajaran yang akan disampaikan, yang mencakup domain kognitif  (pikir), afektif  (zikir), dan Psikomotorik  (amal) guna mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat.
2.      Peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi dan sekaligus kelemahan individual dan kolektif sesuai dengan kondisi fisik, psikis, dan usianya. Kompleksitas bakat dan minat masing-masing peserta didik harus dilihat dan diperlukan secara humanis dengan cara yang bijak.
3.      Situasi dan kondisi lingkunganpembelajaran, baik dari aspek fisik-materiil, sosial, psikis emosional.
4.      Fasilitas dan media pembelajaran yang bersedia beserta kualitasnya.
5.       Kompetensi pendidik (baik profesional, pedagogis, sosial, maupun kepribadiannya).[4]
B.     Faktor-Faktor Lahirnya Bermacam-Macam Metode Pembelajaran
Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat diuraikan faktor-faktor lahirnya bermacam-macam metode pembelajaran sebagai berikut:
1.      Guru
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan.[5] Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal I Ayat I dijelaskan bahwa:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas itama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peseta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[6]

Guru sebagai pemegang otonomi kelas atau pelaku reformasi kelas dapat melaksanakan peranannya sebagai berikut:
a.    Guru sebagai pendidik, yaitu guru memiliki kewajiban untuk melakukan reformasi kelas sehingga diberi otonomi untuk melakukan inovasi dan perunahan di lingkungan kelasnya.
b.    Guru sebagai pengajar, mengajar merupakan proses menyampaikan tansmisi dan transformasi sistem nilai kepada peserta didik.
c.    Guru sebagai pemimpin, yaitu memiliki kelebihan dan kemampuan sehingga dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
d.   Guru sebagai supervisor, dalam menjalankan tugasnya guru merupakan sosok pribadi yang profesional, yang siap berkooperatif untik membantu mitra kerjanya dalam meningkatkan kompetensinya.
e.    Gurun sebagai administrator, yaitu bertanggung jawab dalam perencanaan, pelasanaan, penilaian dan menentukan tindak lanjut kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas.[7]
Guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran ternyata perlu memiliki pengetahuan psikologi agar dapat memahmi tingkah laku atau krakteristik peserta didiknya. Kemampuan memahami tingkah laku belajar peserta didik akan memberi penjelasan bahwa anak sedang dalam keadaan belajar dengan baik atau tidak, kemampuan ini dapat mengukur kemampuan belajar dan kemampuan menerima materi pelajaran.[8] Dengan demikian guru dapat miningkatkan kemampuan belajar peserta didik sesuai potensi yang dimilikinya dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.
Guru harus memiliki misi yang tepat dan berbagai aksi inivatif. Guru dengan visi yang tepat memiliki pandangan yang tepoat tentang pendidikan. Ondi Saondi dan Aris Suherman menjelaskan bahwa guru yang memiliki visi yag tepat memiliki pandangan yang tepat tentang pembelajaran yaitu:
a.       Pembelajaran merupakan jantung dalam proses pendidikan sehingga berkualitas pendidikan terletak pada kualitas pembelajarannya bukan pada aksesoris sekolah.
b.      Pembelajaran tidak akan menjadi baik dengan sendirinya, melainkan melalui proses unovasi tertentu sehingga guru dituntut untuk melaksanakan berbagai pembaharuan dala hal pendekatan, metode, teknik, strategi, langkah-langkah, media pembelajaran mengubah “status quo” agar poembelajaran menjadi lebih berkualitas.
c.       Harus dilaksanakan atas dasar pengabdian, sebagaimana pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah pengabdian bukan sebuah proyek.[9] 
Guru harus memiliki perspektif atau cara memandang tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru yang komprehensif. Keberadaaan visi bagi guru merupakan ketercapaian predikat guru yang pprofesional yang harus mengikuti irama perkembangan dan perubahan pembelajaran serta menciptakan metode pembelajaran yang tepat.
2.      Tujuan yang Hendak Dicapai
Sebagiman diketahui bahwa setiap proses pembelajaran menargetkan tujuan tertentu, seperti tujuan yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik. Setiap kompetensi dasar memberikan petunjuk bagaimana penetapan metode,  baik dalam bentuk tanda-tanda yang jelas maupun tanda-tanda yang masih tersembunyi sehingga memerlukan pengakajian secara seksama. Tanda- tanda tersebut akan diperoleh apabila tujuan telah dirumuskan secara jelas sehingga memperlihatkan tingkat-tingkat kemampuan yang diharapkan dari setiap aspek yang bersangkutan.
Tujuan yang jelas adalah hasil belajar yang akan dicapai, sedangkan yang dimaksud dengan tingkat kemampuan adalah deskripsi tentang bentuk-bentuk hasil belajar tersebut. Tujuan hendaknya dijadikan tumpuan perhatian karena akan memberikan arah dalam memp[erhitungkan efektivitas metode yang digunakan. Ketika metode yang digunakan dalam pembelajaran tidak sesuai denga tujuan, maka dapat dipastikan merupakan kerja sia-sia. Karena tidak adanya keguanaan untuk keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tersebut.
Tujuan memilikinilai yang sanagat penting dalam pemvbelajaran, bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan merupakan faktor yang penting dalam kegiatan dan proses pembelajaran. Oemar Hamalik menjelaskn ada beberapa nilai tujuan dalam pengajaran, salah satu nilai tersebut adalah tujuan pendidikan memberikan pedoman atau petunjuk kepada guru dalam rangka memilih dan menentukan metode mengajar atau menyediakan lingkangan belajar bagi siswa.[10] 
3.      Bahan/Materi Pembelajaran
Pendidikan dalam menetapkan metode pembelajaran hendaknay memperhatikan bahan pembelajaran, baik isi, sifat maupun cakupannya. Pendidik hendaknya mampu menguraikan bahan pembelajaran, apakah hanya bersifat fakta-fakta dan kecakapan-kecakapan yang hanya membutuhkan daya mental untuk menguasainya atau berisi keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang membutuhkan penguasaan secara motorik.
Setelah menginventaris bahan pembelajaran, pendidik dapat segera menentukan metode-metode yang mempunyai krakteristik yang sesuai dengan bahan pembelajaran yang dimaksud, yang kemudian mempraktekkannya dalam pembelajaran. Perlunya inventarisir materi pemeblajaran, karena materi pembelajaran agama Islam cakupannya cukup luas yang dimulai dari Aqidah, Akhlaq, Qur’an Hadis, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam. Semua materi pembelajaran tersebut memerlukan metidde yang berbeda denga materi yang lain dalam pemebelajaran.
4.      Keadaan Peserta Didik
Peserta didik mimiliki latar belakang kecerdasan, bakat, minat, dan kecenderungan yang berbeda-beda, demikian sikap kejiawaan, sehngga seorang pendidik hendaknya dalam menerapkan metode pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik, baik secar kelompok maupun secara individu. Pendidik hendaknya tidak memaksakan peserta didik untuk bergerak  dala aktifitas belajar menerut acuan metode, karena pemaksaaan tidak mengahsilkan apa-apa akan tetapi merusak perkembangan peserta didik.
Terdapat tiga tipologi gaya belajar peserta didik, pertama; tipe visual yaitu peserta didik yang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat seperti warna, hubungan ruang dan gambar. Kedua; tipe auditorial yaitu peserta didik yang tertarik pada segala jenis bunyi seperti musik, dialog dan suara. Ketiga; tipe motorik atau kinesterik  yaitu peserta didik yang tertarik pada segala jenis gerakan dan emosi, baik yang diciptakan maupun yang diingat, seperti gerakan koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik.[11] 
Disadari ataun tidak disadari ketiga tipe tersebut merupakan modal besar yang dimiliki peserta didik. Pada kenyataannya setiap peserta didik memiliki ketiganya, hanya biasanya tipe tertentu yang lebih tampak dominan dibandingkan dengan tipe yang lain. Pendidik hendaknya memahami hal tersebut, sehingga dapat memaksimalkan semua tipe belajar yang dimiliki peserta didik dengan menerapkan berbagai metode dalam pembelajaran sehingga tidak ada peserta didik yang dirugikan.
Penentuan yang sangat penting dalam menerapkan metode dan melalui pembelajaran adalah mengetahui tingkah laku awal peserta didik . ada empat konsep yang erat kaitannya dengan tingkah laku awal, yaitu kesiapan, kematangan, perbedaan individual ddan kepribadian.[12] Konsep yang dimaksud adalah mengethui kesiapan menerima materi, kematangan dalam berpikir, perbedaan-perbedaan sifat dan ingkah laku peserta didik.  


5.      Situasi Pembelajaran
Situasi belajar mencakup kondisi lingkungan sekitar, suasana dan keadaan peserta didik serta guru. Seperti bagaiman keadaan peserta didik, apakah mereka masih bersemangat atau sudah lelah dalam belajar, keadaan cuaca cerah atau hujan, keadaan guru yang sudah lelah atau sedang mengahadapi masalah. Situasi-situasi itu dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Situasi yang dapat diperhitungkan sebelumnya. Dalam situasi ini guru dapat melaksanakan pemebelajaran.
b.      Situasi yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Berbagai kemungkinan dapat terjadi dan kenyataan dapat terjadi diluar perhitungan. Guru hendak menyadari adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut, oleh karena itu guru hendaknya memiliki kecekatan dan kesiagapan untuk mengambil keputusan denga segera mengenai metode-metode yang akan digunakan.[13]    
Dewi salma Prawiradilaga berkenaan dengan situasi pembelajaran menyatakan bahwa apapun desain pembelajaran dan mata ajar yang disampaikan, perlu kiranya diketahui bahwa yang sebenarnya dilakukan oleh para desainer adalah menciptakan situsi belajar yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan peserta didik mersa nyaman dan termotivasi dalam proses belajarnya.[14]
Situasi pembelajaran yang kondusif sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar peserta didik. Peserta didik sebelum dan selama belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik fisik maupun mental. Misalnya kelelahan secara fisik, mengantuk, bosan atau jenuh yang menghinggapi peserta didik dapat mengurangi konsentrasi belajar peserta didik. Kelelahan mental karena terlalu banyak belajar juga dapat mengurangi daya tangkap peserta didik untuk memahami materi pelajaran selanjutnya.
6.      Fasilitas
Secara garis besar fasilitas sekolah terbagi menjadi dua, yaitu:
a.       Fasilitas fisik, seperti: ruang dan perlengkapan belajar, alat peraga, buku dan perpustakaan, laboratorium dan alat berbagai praktikum, serta sarana keagamaan, kesenian dan olahraga.
b.      Fasilitas non fisik, seperti kesempatan, biaya dan berbagai aturan serta kebijakan pimpinan sekolah.
Semua sekolah tentu memiliki fasilitas, hanya saja ada sekolah yang memiliki fasilitas lengkap sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, dan ada pula sekolah yang hanya memilii fasilitas sedikit atau tidak lengkap. Guru dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya memperhitungkan fasilitas dalam menetapkan metode yang akan digunakannya. Guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Guru mengetahui fasilitas apa saja yang tersedia di sekolah serata bagaimana memperoleh dan menggunakannya.
b.      Guru yang tidak cakap menggunakan fasilitas tertentu atau tidak mampu menerapkannya pada metode yang sesuai, meskipun fasilitas memadai, maka pembelajaran akan terganggu. Sebaliknya guru yang cakap dan kreatif akan dapat memanfaatkan fasilitas yang minim untuk mengefektifkan pembelajaran.[15]
Dengan demikian guru sebelum menentukan metode yang akan diterapkan dalam pembelajaran harus mengobservasi terlebih dahulu fasilitas atau sarana yang tersedia. Denjngan demikian seorang pendidik mengetahui dan memahami bagaimana menentukan metode yang dapat dilakukan secara maksimal dan tidak terhambat oleh tidak tersedianya fasilitas pembelajaran. Penentuan memilih metode yang tepat terkait erat dengan fasilitas yang tersedia di sekolah.
Abuddin Nata berpendapat bahwa berbagai metode muncul karena berbagai faktor, antara lain:
a.       Adanya berbagai macam ilmu dan keterampilan yang akan diajarkan yang menghendaki kesesuaian dengan metode yang akan digunakan.
b.      Adanya berbagai tingkatan usia dan kecerdasan peserta didik menyebabkan perbedaan ciri-ciri kejiwaan yang selanjutnya menghendaki adanya pengguna metode yang tepat.
c.       Adanya berbagai situasi dan kondisi yang menghendaki adanya penggunaan metode yang relevan.
d.      Ketersediaan, kelengkapan atau kekurangan sarana dan prasarana yang mneghendaki adanya kesesuaian dengan metode yang akan digunakan .
e.      Penguasaan para guru yang ada dalam menggunakan berbagai metode tersebut.[16]

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemhnya
Arifin, M, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan pendekatan IterdisiplinerJakarta: Bumi Aksara, 2003.
Getteng, Abd. Rahman, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika, Yogyakarta: Graha Guru, 2011.
Hamalik. Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Hanafiah, Nanang dan Cucu Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran, Bandung: Refika Aditama, 2010.
Nasih, Ahmad Munjiin dan Lilik Nur Kholidah, Metode ndan Teknik Pembelajaran Agama Islam, Bandung: Refika Aditama, 2009.
Nata, Abuddin, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009.
-------------------, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010.
Omar, Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Ondi, Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan, Bandungb: Refika Aditama, 2010.
Prawiradilaga, Dewi Salma, Prinsip Disainer pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2009.
Roqib, Moh, Ilmu Pendidikan Islam: pengembangan Pendidikan Integratif  di Sekolah, Keluarga,dan Masyarakat, Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang, 2009.
Sagala, Syaeful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2010.
Suryosubroto,  B, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Qur’an, Bandung: Alfa Beta, 2009.
Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam , Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Undang-Undang RI, Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.




[1]Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam  (Cet. IX; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 33-34.
[2]Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran  (Cet. I; Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009), h.199-202.
[3]Ahmad Munjiin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode ndan Teknik Pembelajaran Agama Islam  (Cet. I; Bandung: Refika Aditama, 2009), h. 40-46
[4]Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: pengembangan Pendidikan Integratif  di Sekolah, Keluarga,dan Masyarakat  (Cet. I; Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang, 2009), h. 94.
[5]Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika (Cet. III; yogyakarta: Graha Guru, 2011), h. 8.
[6]Undang-Undang RI, Undang-Undang Guru dan Dosen (Cet. III; Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h. 3.
[7]Nanang Hanafiah dan Cucu Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran  (Cet. II; Bandung: Refika Aditama, 2010), h. 108 
[8]Syaeful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran  (Cet. VIII; Bandung: Alfabeta, 2010), h. 133.
[9]Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan  (Cet. I; Bandungb: Refika Aditama, 2010), h. 56.
[10]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar  (Cet. X; Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 80.
[11]Ahmad Munjin Nasih dan Lilik nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam , h. 41.
[12]Omar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem  (Cet. VIII; Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 40-41.
[13]Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam, h. 44.
[14]Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disainer pembelajaran  (Cet. III; Jakarta : Kencana, 2009), h. 17.  
[15]Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disainer pembelajaran , h. 17.  
[16]Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam  (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2010), h. 152. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar