Jumat, 09 Februari 2018

Metode Samawi


Semua metode pembelajaran pada hakekatnya itu baik, adapun ketepatannya dalam mencapai tujuan pembelajaran bergantung pada tepat atau tidaknya metode itu digunakan, dan keterampilan seorang pendidik dalam menyakikannya. Dalam artikel ini akan dibahas suatu metode pembelajaran berasal dari konsep pendidikan Islam dalam perspektif al-Quran atau yang lazim disebut metode samawi.
A.        Pengertian Metode Samawi
Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat diperlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Metode Pembelajaran merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain karena setiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing -masing.
Bertolak dari pemahaman tentang konsep pendidikan Islam dalam perspektif al-Quran, maka metode pendidikan Qurani merupakan suatu bagian penting dalam melaksanakan upaya pendidikan. Al-Quran telah menawarkan sejumlah cara dalam penyampaian nilai-nilai pendidikan, baik dalam aspek pengembangan akal, perasaan, keterampilan, maupun aspek-aspek kemanusian melalui metode Qurani antara lain: metode ibrah-Mauidzah, metode kisah Qurani, metode amtsal.[1]
B.        Prosedur Penggunaan Metode Samawi
Tujuan pendidikan Agama merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh setiap orang yang melaksanakan pendidikan Agama. Karena itu dalam pendidikan agama yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah keimanan yang teguh, sebab dengan adanya keimanan yang teguh itu maka akan menghasilkan ketaatan menjalankan kewajiban agama.
Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk perangkat program pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan selalu menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien.[2]
Berkenaan dengan tugas guru yang sepenuhnya sadar akan kewajiban sebagai seorang pendidik muslim. Berbagai macam metode yang disodorkan dalam pembahasan berikut, perhatian akan ditujukan untuk melihat tiga aspek yaitu:
1.      Hakekat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam yakni membentuk pribadi beriman yang senntiasa siap mengabdi kepada Allah swt.
2.      Mengadakan penelitian tentang aktualisasi metode-metode instruksional yang ditunjukkan al-Quran atau yang dapat dideduksikan kepadanya.
3.       Berkaitan dengan pemberian motivasi atau disiplin tema-tema al-Quran tentang perumpaan, kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman.[3]
Kunci pembentukan karakter dalam proses pendidikan menurut al-Quran menunjukkan bahwa manusia itu lahir dengan fitrah yang baik. Kepercayaan akan adanya fitrah yang baik akan berimplikasi praktis bagi metode-metode yang seharusnya diterapkan dalam proses pembelajaran. Demi tanggungjawabnya, secara implisit pikiran pendidik muslim sungguh-sungguh diarahkan kepada tugas memimpin peserta didik kepada Islam. Dalam suatu kenyatan bahwa Islam itu merupakan satu-satunya agama wahyu. Islam mempertahankan fitrah yang baik, yang tidak boleh berubah atau tergantikan.[4]
C.  Implementasi metode samawi (Qurani) di Sekolah
Berbagai metode tersebut di atas tidak semua akan diuraikan secara detail dalam makalah ini, namun hanya tiga metode yang akan dijabarkan secara terperinci yaitu metode ibrah mauizah , metode qissah, metode amtsal
1.       Hakikat metode ibrah mauizah
a.       Pengertian
Pengertian ibrah dalam Alquran dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk mengambil pelajaran dari pengalaman pengalaman orang lain atau dari peristiwa-peristiwa  yang terjadi pada masa lampau melalui suatu proses berpikir secara mendalam, sehingga menimbulkan kesadaran pada diri seseorang. Menurut al-Nahlawi kedua kata tersebut ibrah dan i’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan dan dihadapi, dengan menggunakan nalar yang menyebabkan hati menyukainya.[5] Adapun Mauizah ialah nasehat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya[6]
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode atau model ibrah ialah suatu cara mengetahui intisari perkara yang dapat membuat kondisi psikis peserta didik, mengetahui intisari perkara yang mempengaruhi perasaannya, yang diambil dari pengalaman-pengalaman orang lain atau pengalaman hidupnya sendiri sehingga sampai pada tahap perenungan, penghayatan dan tafakkur yang dapat menumbuhkan amal perbuatan.
          Penggunaan ibrah dalam Alquran dan Sunnah ternyata berbeda-beda sesuai dengan objek ibrah itu sendiri. Pengambilan ibrah dan kisah hanya akan dapat dicapai oleh orang-orang yang akan berpikir dengan akal dan hatinya seperti firman Allah QS Yusuf/12:111

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ١١١

Terjemahnya:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal[7]
Esensi ibrah dalam ayat ini bahwa Allah berkuasa menyelamatkan yusuf setelah dilemparkan ke dalam sumur yang gelap, meninggikan kedudukannya setelah dijebloskan ke dalam penjara, menjadikannya raja Mesir setelah dijual sebagai budak. Kisah ini menjelaskan bahwa ibrah (pelajaran) dari kisah ini hanya dapat dipahami oleh orang yang disebut ulul al-bab yaitu orang-orang yang berpikir dan berzikir.
Rasyid Ridha, seperti yang dikutip al-Nahlawi tatkala menafsirkan surah al-baqarah, menyimpulkan bahwa mauizah adalah nasehat dengan cara menyentuh kalbu. [8]
            Sekarang kedua pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa nasehat itu harus ikhlas dan berulang-ulang sehingga nasehat itu akan menyentuh qalbu pendengarnya, dengan itu timbul kesan dari pendengar bahwa orang yang menasehati itu memang mempunyai keprihatinan yang dalam terhadap nasib pendengarnya.
1.      Tujuan dan keistimewaan metode ibrah antara lain
a.    Menumbuhkan aqidah tauhid
b.    Mengantarkan pendengar kepada kepuasan berpikir
c.    Menggerakkan dan mendidik perasaan rabbaniyah
d.   Menumbuhkan ketaatan pada perintah Allah
2.      Aplikasi metode ibrah dan mauidzah dalam pengajaran
Metode ibrah dan mauizah diistilahkan oleh al-nahlawi sebagai pendekatan pendidikan keimanan dalam Alquran atau disebut sebagai metode quraniyah yang memiliki berbagai keistimewaan karena adanya keselarasan dan fitrah (potensi) manusia sebagai pendidik dan terdidik.
Sebagai metode quraniyah ibrah dan mauidzah sudah sepatutnya digunakan sebagai metode mendidik manusia dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam dunia pendidikan agama yang sarat dengan nilai . ibrah dan mauizah dapat dipergunakan pendidik dalam mengadakan huubungan dengan peserta didik saat berlangsungnya pelajaran. Peran metode ini sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar dan terciptanya suasana edukatif dalam arti terjadinya pendidikan, tidak hanya terjadi si terdidik tetapi juga bagi pendidik.
Meskipun metode ini memiliki keistimewaan, tetapi dengan keistimewaanya tidak berarti bahwa dengan menggunakan metode ini nilai-nilai religius serta merta terjelma dalam diri manusia, karena terjelmanya nilai-nilai dalam diri manusia terkadang sulit dimengerti.
Penggunaan metode ibrah dan mauizah dapat meliputi sebagian besar antara agama dan bukan agama. Titik tekannya pada materi mengandung unsur-unsur religius seperti ketauhidan, ukhuwah, musyawarah, takaful ijetima, tasamuh, istiqamah, jihad, dan sebagainya. Dengan kata lain, berkaitan dengan materi-materi yang mengandung nilai-nilai yang relevan dengan aturan yang berlaku (Islam), yang kesemua nilai tersebut bertitik tolak dari konsep ajaran Islam yaitu aspek aqidah, syariah, dan akhlak.[9]
2. hakikat metode kisah
a. Pengertian
kata kisah berasal dari bahasa arab, yakni dari kata  “qishah” diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi “kisah” yang berarti cerita. Kisah dalam bahasa Alquran bermakna tarikh (Swjarah) yaitu peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi zaman dahulu. Sedangkan kisah dalam bahasa Indonesia mengandung arti cerita-cerita yang berbau mistik atau legenda yang ada dalam Alquran  disebut “ashatir”.
            Secara terminologi kata “Qishah” Alquran mengandung dua makna yaitu, pertama: Al—Qashash fi al-Quran yang artinya pemberitaan  Alquran Tentang hal ikhwal ummat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun tentang peristiwa-peristiwa yang tejadi pada umat terdahulu. Kedua , “Qashash al-Quran” yang artinya karasteristik kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran . pengertian yang kedua inilah yang dimaksud sebagai metode kisah sebagai metode pendidikan.
b.      Aplikasi metode kisah qurani dalam pendidikan agama Islam disekolah
Jika kisah dalam Alquran disajikan sebagai bahan pelajaran, maka kisah tersebut harus disajikan secara utuh. Namun jika kisah itu dijadikan sebagai metode mengajar, tidak perlu disajikan secara utuh cukup penggalang-penggalang saja, yang dapat dijadikan sebagai alat untuk membawa muridpada suatu situasi pemikiran atau kejiwaan tertentu dalam rangka memancingperhatian dan persaan murid. Penggalang kisah tersebut dapat pula dijadikan sebagai alat untuk membawa murid pada suatu titik kulminasi dalam menghayati nilai-nilai tertentu sesuai dengan muatan bahan pelajaran. Sebagai contoh dalam menanamkan keimanan akan kebesaran Allah, dapat diambil suatu penggalan kisah nabi Ibrahim as. Tatkala bertanya kepada Allah tentang bagaimana cara Allah menghidupkan orang mati QS Albaqarah/2;26. Dari prinsip-prinsip dasar kisah metode di atas dapat pula dikembangkan lebih jauh sampai pada langkah langkah aplikasi dalam berbagai bentuk dan berbagai macam bahan pelajaran sebagaimana yang telah diuraikan pada langkah-langkah ibrah dan mauizah[10]
3.      Hakikat metode amtsal
a.       Pengertian
Amtsal adalah bentuk jamak dari “matsala”, yang artinya membuat pemisahan, perumpamaan dan bandingan sedangkan menurut manna Khalil menyebutkan pengertian amtsal Alquran adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh yang dalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih maupun perkataan bebas[11]
b.      Aplikasi metode amtsal di sekolah
Metode amtsal dapat dimanfaatkan khususnya guru PAI dan guru sejarah dalam kegiatan pembelajaran sebagai materi pelajaran. Sebagaimana firman-Nya QS Azzumar/39:27.:

وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٧

Terjemahnya:
Sesungguhnya kami buatkan bagi manusia dalam Alquran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran[12]
Amtsal Qur’ani disamping digunakan sebagai materi dan metode pendidikan dapat juga dimanfaatkan sebgai media untuk lebih memperjelas pemahaman, membagkitkan semangat, membujuk, melarang mencaci dan tujuan-tujuan pedagogis lainnya sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Sejalan dengan hal ini, rasulullah pun mebuat tamsil dalam hadis-hadisnya. Demikian juga para dai yang menyeru manusia kepada jalan Allah sering menggunakan perumpamaan untuk menunjukkan kebenaran dan memberikan hujjah. Untuk penggunaan metode tersebut seorang guru hendaknya:
1)      Memiliki pemahaman tentang amtsal dalam Alquran secara menyeluruh
2)      Mengetahui tujuan-tujuan pedagogis amtsal
3)      Mampu memilih tujuan pedagogis amtsal yang relevan dengan tujuan pelajaran yang disampaikan
4)      Mampu mencari perumpamaan sendiri yang relevan dengan tujuan pedagogis amtsal dan tujuan pelajaran yang ingin disampaikan
5)      Mampu menunjukkan atau mengungkapkan perumpamaan-perumpamaan itu secara jelas dan mudah dipahami oleh peserta didik
Guru PAI akan memberikan materi pelajaran pokok bahasan tentang infak fisabilillah, siswa diharapkan dapat memahami makna infak yang benar sehingga mampu membedakan anatara infak dijalan Allah dengan infak yang bukan dijalan Allah dan mampu merangsang semangat para siswa untuk berifak dengan cara yang benar dan menghindarkan diri dari praktik berinfak yang tidak benar. Untuk itu guru perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
a)      Guru mengungkapkan pokok bahasan yang hendak disajikan
b)      Guru memberikan pre test secara lisan dan spontan untuk mengukur sejauh mana tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang akan diajarkan, dan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi.
c)      Guru mengangkat ayat-ayat tamsil yang relevan dnegan pokok bahasan
d)     Guru menerangkan konsep infak di jalan Allah dengan media gambar 1 biji yang ditanam secara baik dan benar serta hasil yang akan diperolehnya, lalu menerangkan pula satu biji yang ditanam dengan tidak baik maka hasilnya juga tidak baik
e)      Pada waktu kegiatan berlangsung, ada baiknya jika guru mengembangkan pokok bahasan dengan cara memberikan perumpamaan yang sesuai dengan dunia siswa
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, guru secara kreatif dalam mengambil perumpamaan-perumpamaan dari Alquran seperti menganalogikan masalah berinfak di jalan Allah dengan orang yang menanam sebuah tanaman, bagaimana agar tanaman itu dapat menghasilkan panen yang baik.[13]

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, 2008, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya.
Alim, Muhammad, 2006, Pendidikan Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kementerian Agama, 2010, al-Qur’an dan Tajwid  Cet.X; Bandung: CV. Penerbit di Ponegoro,
Nasir A. Baki, 2014, Metode Pembelajaran Agama Islam. Yogyakarta: Eja Publisher
Rohman, Abdul, 2005, Pendidikan Agama Islam, Purwokerto: Universitas Jendral Soedirman.
Suyanto, Imam, 2005. Pendidikan Agama Islam. Kebumen : FKIP UNS.
Syahidin, 2009, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran Cet. I; Bandung : Alfabeta.
Taufik, Ahmad, 2011, Pendidikan Agama Islam. Surakarta : Yuma Pustaka.


[1]Nasir A. Baki, Metode  Pembelajaran Agama Islam (Cet. I; Yogyakarta: Eja Publisher. 2014), h. 47.
[2]Abdul Rohman, Pendidikan Agama Islam, (Purwokerto: Universitas Jendral Soedirman. 2005),  h. 34.
[3]Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan al-Quran. (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 197-201.
[4]Nasir A. Baki, Metode  Pembelajaran Agama Islam (Cet. I; Yogyakarta: Eja Publisher. 2014), h. 49.
[5]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran (Cet. I; Bandung : Alfabeta. 2009), h. 43
[6]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya. 2008), h. 135.
[7]Kementerian Agama, al-Qur’an dan Tajwid  (Cet.X; Bandung: CV. Penerbit di Ponegoro, 2010), h.248.
[8]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 145
[9]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 146.
[10]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran , h. 97.
[11]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran ,  h. 79.

[12]Kementerian Agama, al-Qur’an dan Tajwid , h.461.

[13]Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Alquran,  h. 98-99.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar