Metode
Uswah/keteladanan merupakan
salah satu metode yang bisa diterapkan dalam proses
pembelajaran, karna
metode tersebut dapat
ditiru atau di contoh oleh seseorang dari oranng lain kususnnya peserta didik dalam proses pembelajaran, namun keteladanan yang dimaksud disini adalah
keteladanan yang dapat dijadikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam artikel ini akan dibakas tentang metode Uswah/keteladanan.
A.
Pengertian Metode Uswah
(Keteladanan)
Kamus Ilmiah Populer disebutkan
bahwa “keteladanan” berasal dari kata dasar “teladan” yaitu: “(perbuatan atau
barang dsb,) yang patut ditiru dan dicontoh.” Oleh karena itu keteladanan
adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh.[1]
Kamus Al-Munawwir Indonesia dan Arab bahwa kata “keteladanan”
diungkapkan dengan kata “uswah” dan “qudwah” Artinya “pengobatan dan perbaikan.[2]
dalam alquran yaitu contoh atau teladan yang baik. Sehingga yang dikehendaki
dengan keteladanan (uswah hasanah) di sini adalah keteladanan yang dapat
dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik, sesuai
dengan pengertian “uswah hasanah”.
Senada dengan
yang disebutkan di atas, Armai Arief juga menutip pendapat dari seorang tokoh
pendidikan islam lainnya yang bernama Abi Al-Husain Ahmad Ibnu Al-Faris Ibn
Zakaria yang termaktub dalam karyanya yang berjudul Mu’jam Maqayis
al-Lughah, beliau berpendapat bahwa “uswah” berarti “qudwah”
yang artinya ikutan, mengikuti yang diikuti.[3]
Hal ini sesuai yang terkandung dalam surah al-Ahzab
[33] ayat 21:
Terjemahnya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[4]
Ayat di atas dapat dipahami bahwa
Allah mengutus Nabi Muhammad Saw ke permukaan bumi ini adalah sebagai contoh
atau teladan yang baik bagi umatnya. Beliau selalu terlebih dahulu
mempraktekkan semua ajaran yang disampaikannya kepada umat, sehingga tidak ada
celah bagi orang-orang yang tidak senang untuk membantah dan menuduh bahwa Rasulullah Saw hanya pandai bicara
dan tidak pandai mengamalkan. Praktek uswah ternyata menjadi pemikat bagi umat
untuk menjauhi segala larangan yag disampaikan Rasulullah dan mengamalkan semua
tuntunan yang diperintahkan oleh Rasulullah, seperti melaksanakan ibadah
shalat, puasa, jual beli, dll.
Ayat di atas juga sering diangkat
sebagai bukti adanya keteladanan dalam pendidikan. Muhammad Qutub misalnya
mengisyaratkan sebagaimana yang dikutip oleh Abudin Nata dalam bukunya
Filsafat Pendidikan Islam bahwa: Pada
diri Nabi Muhammad Allah menyusun suatu bentuk sempurna yaitu bentuk yang
hidup dan abadi sepanjang sejarah masih berlangsung.[5]
Jika pendidikan adalah melalui contoh, maka Rasul menempati
posisi nomor wahid untuk di teladani, baru kemudian faktor figur lain menjadi sangat penting,
baik di rumah, sekolah maupun masyarakat. Siapakah figur sentral di rumah?
Siapakah figur sentral di sekolah? Dan siapakah figur sentral di masyarakat?
Karena dalam tahapan pertumbuhan dan proses belajar, ciri khas seorang yang
menjadi teladan bagi anak-anak dan remaja sangatlah penting. Semakin sempurna
seorang dewasa yang menjadi teladan bagi anak-anak, maka tingkat penerimaan dan
keberlansungannya juga semakin banyak. Lihat saja perilaku anak-anak, mereka
sangat menyukai perilaku orang yang diteladaninya dan dengan senang hati
berusaha membentuk dirinya seperti orang yang diteladaninya itu.
Menurut Mangun
Budiyanto bahwa apabila ittiba’ kepada Rasulullah, maka setiap pendidik/guru muslim
seharusnya berusaha agar dapat menjadi uswatun hasanah, artinya bisa menjadi
contoh teladan yang baik bagi perserta didiknya khususnya dan masyarakat pada
umumnya,[6]
meskipun diakui tidak mungkin bisa sama seperti keadaan Rasulullah, namun
setidaknya harus berusaha ke arah itu.
Dengan demikian keteladanan adalah tindakan
atau setiap sesuatu yang dapat ditiru atau diikuti oleh seseorang dari orang
lain yang melakukakan atau mewujudkannya, sehingga orang yang di ikuti disebut
dengan teladan. Namun keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang
dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik.[7] Sehingga dapat
didefinisikan bahwa metode keteladanan (uswah) adalah metode pendidikan yang
diterapkan dengan cara memberi contoh-contoh (teladan) yang baik yang berupa
prilaku nyata, khusunya ibadah dan akhlak
Metode ini sangat tepat
apabila digunakan untuk mendidik atau mengajar akhlak, karena untuk pelajaran
akhlak dituntut adanya contoh teladan dari pihak pendidik atau guru itu
sendiri. Terlabih bagi anak seusia sekolah dasar kebawah, yang masih didominasi
oleh sifat-sifat imitasinya (serba meniru) terhadap apa yang di dengar dan
diperbuat oleh orang-orang dewasa yang ada disekitranya.
B.
Prosedur
Pelaksanaan Metode Uswah
(Keteladanan)
Prosedur dalam pelaksanaan metode ini
dilaksanakan dalam dua cara, yaitu:
1. Secara langsung (direct)
Keteladanan yang dimaksud secara langsung
di sini adalah bahwa pendidik/guru itu sendiri harus benar-benar menjadi dirinya
sebagai contoh teladan yang baik kepada peserta didiknya.
Metode keteladanan sering juga di sebut thoriqotu
bil uswatul khasanah. Nabi Muhammad Saw. Sebagai pendidik dan pengajar
agung telah diberi anugarah predikat oleh allah Swt sebagai uswatuh hasanah.
Apabila ittiba’ kepada Rasul, maka
setiap pendidik atau guru muslim seharusnya berusaha agar dapat menjadi uswatun
hasanah, artinya bisa menjadi contoh teladan bagi peserta didik khususnya dan
masyarakat sekitar pada umumnya, meskipun diakui bahwa tidak mungkin sama
seperti keadaan Rasulullah. Namun setidak-tidaknya, harus berusaha kearah itu.
Menurut Ibnu Muqaffa dalam Mangun Budiyanto bahwa hubungannya metode ini pernah
mengingatkan orang yang mengajar
dan mendidik dirinya sendiri adalah yang paling berhak untuk dihormati dan
dimuliakan daripada orang yang hanya mengajar dan mendidik orang lain.[8]
Maka tepat
sekali apa yang dipesankan Uyainah Bin Abi Sufyan dalm Fethullah
Gulen kepada guru
yang mengajar anaknya bahwa hendaklah yang pertama-tama kamu lakukann di dalam
memperbaiki anakmu, adalah perbaiki dulu dirimu sendiri. Karena sesungguhnya
mata anak-anak itu hanya tertuju kapadamu. Maka, apa yag baik menurut mereka
adalah apa yang kamu perbuat, dan apa yang jelek menurut mereka adalah apa yang
kamu tinggalkan.[9]
Pesan Uyainah bahwa pendidik menjadi sorotan mata peserta didik. Sehingga apa yang diperbuat pendidik/guru, apakah itu baik atau buruk akan memberi bekas yang kuat kepada peserta didik. Yang perlu
diperhatikan adalah karakteristik pendidik itu sendiri dan adapun karakteristik pendidik atau guru teladan adalah:
a. Karakteristik
Akidah, Akhlak dan Prilaku. Yaitu pendidik atau guru harus mempunyai akidah
yang bersih dari hal-hal yang bertentangan dengannya. Senantiasa merasa diawasi
oleh Allah swt. (muraqabah) dimanapun berada, melakukan koreksi diri (muhasabah)
atas kelalaian dan kesalahan.[10]
Menanamkan sikap tawadhu’ (rendah hati), jangan sampai timbul
perasaan ujub, karena orang yang tawadhu’ akan
diangkatkan derajatnya oleh Allah Swt. Sebagaimana firman Allah dalam surah
Al-Qashash [28] ayat 83:
Terjemahnya:
Negeri akhirat itu, kami jadikan
untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di
(muka) bumi. dan kesudahan (yang baik)
itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.[11]
Dari ayat di atas dapat
tipahami bahwa tawadhu’ dan rendah diri kepada manusia merupakan sifat terpuji
yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu
niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di
akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam
hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua
kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan
orang yang tawadhu’ kepada-Nya.
Guru harus berakhlak mulia,
berkelakuan baik, dan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan hal itu, baik
di dalam maupun di luar kelas. Mampu mengatur waktu dengan baik, sehingga tidak
ada waktu yag terlewatkan tanpa mendatangkan manfaat duniawi dan ukhrawi.
Senantiasa melandaskan niat ibadah kepada Allah ketika mengajarkan ilmu. Tidak
semata-mata mengandalkan kemampuan dan usaha belaka dalam mengajar, tetapi
juga berdo’a meminta taufiq serta pertolongan dari Allah Swt.
Pendidik harus menjadi teladan pada
peserta didik dalam segala perkataan, perbuatan dan prilaku. Pendidik/guru harus
selalu jujur, adil, berkata yang baik, dan memberi nasihat serta pengarahan
kepada anak didik.
b.
Karakteristik Profesional. Profesi pendidik
atau guru adalah profesi yang sangat mulia.Risalah yang diemban guru sangat
agung. Seorang guru harus memiliki bekal
dan persiapan agar dapat menjalankan profesi dan risalahnya.[12]
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang guru dan dibutuhkan dalam
proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut: Menguasai materi pelajaran dengan
matang melebihi peserta didiknya dan mampu memberikan pemahaman kepada mereka
secara baik, memiliki kesiapan alami (fitrah) untuk menjalani proses mengajar,
seperti pemikiran yang lurus, bashirah yang jernih, tidak
melamun, berpandangan jauh ke depan, cepat tanggap, dan dapat mengambil
tindakan yang tepat pada saat-saat kritis, menguasai cara-cara mengajar dan
menjelaskan. Dia mesti menelaah buku-buku yang berkaitan dengan bidang studi
yang diajarkannya. Sebelum
memasuki pelajaran, guru harus siap secara mental, fisik, waktu dan ilmu
(materi).[13]
Maksud kesiapan mental dan fisik adalah tidak mengisi
pelajaran dalam keadaan perasaan yang kacau, malas ataupun lapar. Kesiapan waktu
adalah dia mengisi pelajaran itu dengan jiwa yang tenang, tidak menghitung tiap
detik yang berlalu, tidak menanti-nanti waktu usainya atau menginginkan para
siswa membaca sendiri tanpa diterangkan maksudnya, atau menghabiskan jam
pelajaran dengan hal-hal yang tidak ada gunanya bagi siswa.Sedangkan maksud
kesiapan ilmu adalah dia menyiapkan materi pelajaran sebelum masuk kelas. Dia
menyiapkan apa yang dikatakannya. Sebiasa mungkin, dia menghindari spontanitas
dalam mengajar jika tidak menguasai materinya.
2.
Secara tidak langsung (non-direct)
Secara tidak langsung (non-direct) maksudnya adalah dengan menceritakan kisah-kisah atau riwayat-riwayat orang-orang besar, para pahlawan,
para syuhada, termasuk para nabi. Dengan mengambil kisah-kisah atau riwayat-riwayat
yang demikian itu diharapkan peserta didik akan menjadikan tokoh-tokoh ini
sebagai uswatun hasanah.
Salah satu kisah yang dapat dijadikan teladan adalah kisah Rasulullah
Muhammad Saw. Beliau merupakan
pribadi yang sukses menampilkan dirinya sebagai sosok yang memang
pantas ditiru dan diteladani.
Telah
diketahui bersama bahwa Allah Swt mengutus
Nabi Muhammad Saw agar menjadi teladan bagi seluruh manusia dalam
merealisasikan sistem pendidikan. Setiap prilaku Rasulullah dalam kehidupan
sehari-hari merupakan prilaku Islami yang bersumber dari alquran. Aisyah ra
sendiri pernah berkata bahwa akhlak beliau adalah alquran.
Hal ini sesuai dengan
fairman Allah dalam sutah al-Fath [48]
ayat 29:
Terjemahnya:
Muhammad itu adalah
utusan Allah Swt yang orang-orang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir,
tetapi berkasih saying terhadap sesama mereka, kamu melihat mereka ruku’ dan
sujud mencari karunia Allah Swt …”.[14]
Dari ayat di atas bahwa Rasul
sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, pembawa risalah abadi,
kesempurnaannya menyeluruh dan universal, baik yang berhubungan dengan masalah
ibadah, atau yang menyangkut kepatuhan atau kesabaran. Ini semua perlu
diteladani dengan harapan agar kita menjadi manusia yang bermental Islami yang
seluruh aspek kejiwaannya didasari dengan nilai-nilai luhur alquran dan hadits.
C.
Implementasi Metode Keteladanan
dalam Realitas Pendidikan
Tinjauan dari sudut ilmiah
menunjukkan bahwa pada dasarnya keteladanan memiliki sejumlah azas kependidikan
yaitu sebagai berikut:
Pertama, metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang
senantiasa mengarah pada perbaikan sikap atau dikenal dengan budi pekerti. Dengan
demikian, seorang pendidik dituntut untuk menjadi teladan di hadapan peserta didiknya,
bersegera untuk berkorban, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang hina. Dengan
begitu, para pendidik dan orang tua harus menyempurnakan dirinya dengan akhlak
mulia.
Kedua, sesungguhnya kepribadian Rasulullah Saw sebagai
teladan abadi dan aktual bagi pendidik dan generasi muda sehingga setiap kali
kita membaca riwayat beliau, semakin bertambahlah kecintaan dan hasrat kita
untuk meneladani beliau.[15]
Yang perlu kita garis bawahi, Islam tidak menyajikan keteladanan ini untuk
menunjukkan kekaguman, tetapi Islam menyajikan keteladanan ini agar manusia
menerapkan suri teladan ini kepada dirinya sendiri dan untuk peserta didik
serta manusia secara umum.
Dilihat dari hasil pengaplikasiannya
keteladanan terpecah menjadi dua ranah yaitu :
- Pengaruh
langsung yang tidak disengaja
Keberhasilan tipe peneladanan ini
banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik yang
diteladankan, seperti: keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, atau lain
sebagainya. Dalam kondisi ini pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa
disengaja.[16] Ini
berarti bahwa setiap pendidik yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara
tingkah lakunya dalam proses pembelajaran.
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif yang paling
meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk peserta didik
dalam moral, spiritual dan sosial. Hal ini karena pendidik adalah contoh
terbaik dalam pandangan peserta didik, yang akan ditirunya dalam
tindak-tanduknya, dan tata santunnya, disadari ataupun tidak, bahkan tercetak
dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan
atau perbuatan, baik material atau spiritual, diketahui atau tidak
diketahui.
- Pengaruh
yang Sengaja
Kadangkala peneladanan diupayakan
secara sengaja. Maka umpamanya guru memberikan contoh membaca yang baik agar
para pelajar menirunya, imam membaikkan shalatnya untuk mengajarkan shalat yang
sempurna kepada orang-orang, dan komandan maju ke depan barisan di dalam jihad
untuk menanamkan keberanian, pengorbanan, dan kegigihan di dalam jiwa
pasukannya.[17]
Dari sini dapat dilihat bahwa keteladanan dalam
kehidupan sehari-hari memberikan implikasi yang luar biasa, begitu juga dalam
pendidikan. Untuk itu seyogyanya sebagai pendidik harus merealisasikan
keteladanan dalam proses pendidikan.
Dengan
demikian keteladanan adalah sesuatu yang sangat di harapkan untuk memberikan
efek positif kepada lingkungan pendidikan baik pendidikan di sekolah maupun
pendidikan di rumah, menselaraskan antara perkataan dan perbuatan adalah
keharusan sehingga pendidik dan orang tua menjadi figur yang dapat ditiru oleh peserta
didik maupun anaknya.
D.
Kelebihan Dan Kekurangan Metode Uswah (Keteladanan)
Metode keteladanan juga memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri, sebagaimana lazimnya metode-metode lainnya. Secara
sederhana berkaitan dengan penerapannya dalam proses mengajar kelebihan dan
kekurangan metode keteladanan dapat dijelaskan yaitu sebagai berikut:
- Kelebihan Metode Uswah (Keteladanan)
Kelebihan Penggunaan metode uswah atau keteladanan dalam proses
pembelajaran diantaranya sebagai berikut:
a)
Metode keteladanan dapat menciptakan hubungan
harmonis antara pendidik dengan
peserta
didik
b)
Dengan metode keteladanan tujuan guru yang ingin dicapai
menjadi lebih terarah dan tercapai dengan baik.
c)
Dengan metode keteladanan guru secara tidak langsung dapat mengimplementasikan
ilmu yang diajarkannya.
d) Metode
keteladanan juga mendorong guru untuk senantiasa berbuat baik karena menyadari dirinya akan dicontoh
oleh muridnya.[18]
Dari kelebihan-kelebihan yang telah
disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa metode keteladanan memiliki peranan
yang sangat signifikan dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan, dimana selain
diajarkan secara teoritis peserta didik juga bisa melihat secara langsung
bagaimana praktik atau pengamalan dari pendidiknya yang kemudian bisa dijadikan
teladan atau contoh dalam berprilaku dan mengamalkan atau mengaplikasikan
materi pendidikan yang telah dia pelajari selama proses belajar menganjar
berlangsung.
- Kekurangan
Metode Uswah (Keteladanan)
Selain mempunyai
kelebihan dan keunggulan dibandingkan dengan metode lainnya, dalam penerapannya
metode keteladanan juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan, diantaranya yaitu
sebagai berikut:
a)
Jika dalam proses
belajar mengajar figur yang diteladani dalam hal ini pendidik tidak baik,
maka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula.
b)
Jika dalam proses belajar
menganjar hanya memberikan teori tanpa diikuti dengan implementasi maka
tujuan pendidikan yang akan dicapai akan sulit terarahkan.[19]
Dari serangkaian
kelebihan dan juga kekurangan yang telah dijelaskan di atas dapat dikatakan
bahwa, metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai
pengaruh dan terbukti bisa dikatakan efektif dengan berbagai kelebihannya,
meskipun juga tidak terlepas dari kekurangan, dalam mempersiapkan dan membentuk
aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah
figur terbaik dalam pandangan anak didik, yang tindak-tanduk dan sopan
santunnya disadari atau tidak, akan ditiru atau diteladani oleh peserta
didiknya.
Jadi dari
kelebihan dan kekurangan diatas dapat terlihat betapa sentralnya peranan guru
dalam hal ini merupakan sosok kunci yang akan memberikan telardan kepada
peserta didik, dan juga sosok yang akan dijadikan model atu teladan oleh peserta
didik, jadi dalam hal ini sukses atau tidaknya metode keteladalan dalam suatu
pembelajran sangat tergantung pada sosok guru yang diteladani.
Hal ini sesuai dengan
firman Allah dalam surah Al- Mumtahanah [60] ayat 6:
Terjemahnya:
Sesungguhnya pada
mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi
orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian.
dan barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya
lagi Maha Terpuji.[20]
Ayat diatas memperlihatkan bahwa kata
uswah selalu digandengkan dengan sesuatu yang positif “hasanah” atau yang baik
dan suasana yang sangat menyenangkan yaitu bertemu dengan Tuhan sekalian alam.
Oleh karena itu,
keteladanan yang baik adalah salah satu metode yang bisa diterapkan untuk
merealisasikan tujuan pendidikan. Hal ini karena keteladanan memiliki peranan
yang sangat signifikan dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan, dan juga dapat
memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai pendidikan Islam
terutama pendidikan ibadah dan pendidikan akhlak.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2007.
Budiyanto, Mangun. Ilmu Pendiidkan Islam, Yogyakarta: Griya Santri,2011.
Departemen Agama RI. Alqur'an
dan Terjemahannya Juz 1-30. Surabaya:
MEKAR. 2016.
Direktorat Profesi Pendidik,
Pedoman Penilaian Guru Berprestasi. Jakarta: Depdikns,2008.
El
Rais, Heppy. Kamus Ilmiah Populer, Cet. 1; Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012.
Gulen, M.
Fethullah. Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah Saw. Di Terjemahkan Oleh: Tri
Wibowo Budi Santoso, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2008.
Hidayat,
Nurul. 2015. “Metode Keteladanan dalam Pendidikan Islam” Ta’allum: Jurnal
Pendidikan Islam Vol. 3, No.2
(2015): h. 47.
Mamayulis.
Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
Kalam Mulia, 2010.
Mangun
Budiyanto. Ilmu Pendiidkan Islam, Yogyakarta: Ombak, 2013.
Nata,Abudin.
Filafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Purwanto, M.
Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007.
Sitompul, Hafsa. 2016. “Metode Keteladanan Dan Pembiasaan Dalam Penanaman
Nilai-Nilai Dan Pembentukan Sikap Pada Anak” Jurnal Darul ‘Ilmi Vol. 4, No.1 (2016): h. 60
Sukarno.
Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Surabaya: Elkaf,2012
Sulaiman
M. 2016. “Mendidik dengan tauladan. Jurnal studi Islam” Jurnal Studi Islam Vol. 11, No.1: (2016): h. 43.
Syahidin. Metode Pendidikan Qur`ani: Teori dan Aplikasi, Jakarta: Misaka Galiza, 2009.
Uzer
Usman, Moh. Menjadi Guru Profesional, Edisi ke dua Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011.
Warson Munawwir,
Ahmad. Kamus Al-Munawwir
Indonesia Dan Arab, Surabaya :
Pustaka Progressif,2007.
[1]El Rais, Heppy.,
Kamus Ilmiah Populer, (Cet. 1; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012),
h. 656.
[2]Ahmad
Warson Munawwir.
Kamus Al-Munawwir Indonesia Dan
Arab, (Surabaya : Pustaka Progressif,2007), h. 614
[3]Armai Arief, Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 200, Cet. 2,
h.117
[4]Departemen
Agama RI. Alqur'an dan Terjemahannya Juz 1-30. (Surabaya: MEKAR. 2016), h. 420.
[7] Hafsa sitompul. 2016. “Metode Keteladanan Dan Pembiasaan Dalam Penanaman
Nilai-Nilai Dan Pembentukan Sikap Pada Anak” Jurnal Darul ‘Ilmi Vol. 4, No.1 (2016): h. 60
[9]M. Fethullah Gulen, Versi
Terdalam Kehidupan Rasulullah Saw. Di Terjemahkan Oleh: Tri Wibowo Budi
Santoso, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2002), 197.
[10]
M Sulaiman. 2016. “Mendidik dengan tauladan. Jurnal studi Islam” Jurnal Studi Islam Vol. 11, No.1: h. 43.
[12]Nurul
Hidayat.2015. “Metode Keteladanan dalam Pendidikan Islam” Ta’allum: Jurnal
Pendidikan Islam Vol. 3, No.2 (2015):
h. 47.
[13]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Edisi ke dua
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 37.
[15]Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi:
Aplikasi Strategi Dan Model Kecerdasan Spiritual Rasulullah Di Masa Kini,
(Jogjakarta: IRcisoD, 2006), h. 96.
[16] Syahidin, Metode Pendidikan
Qur`ani: Teori dan Aplikasi, (Jakarta:
Misaka Galiza, 2009), hal. 45.
[17]M. Ngalim Purwanto, Ilmu
Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 35.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar