Jumat, 09 Februari 2018

Metode Uswah/keteladanan



Metode  Uswah/keteladanan merupakan salah satu metode yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran, karna metode tersebut dapat ditiru atau di contoh oleh seseorang dari oranng lain kususnnya peserta didik dalam proses pembelajaran, namun keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam artikel ini akan dibakas tentang metode Uswah/keteladanan.

A.    Pengertian Metode Uswah (Keteladanan)
Kamus Ilmiah Populer disebutkan bahwa “keteladanan” berasal dari kata dasar “teladan” yaitu: “(perbuatan atau barang dsb,) yang patut ditiru dan dicontoh.” Oleh karena itu keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh.[1]
Kamus Al-Munawwir Indonesia dan Arab bahwa kata “keteladanan” diungkapkan dengan kata “uswah” dan “qudwah” Artinya “pengobatan dan perbaikan.[2] dalam alquran yaitu contoh atau teladan yang baik. Sehingga yang dikehendaki dengan keteladanan (uswah hasanah) di sini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik, sesuai dengan pengertian “uswah hasanah”.
Senada dengan yang disebutkan di atas, Armai Arief juga menutip pendapat dari seorang tokoh pendidikan islam lainnya yang bernama Abi Al-Husain Ahmad Ibnu Al-Faris Ibn Zakaria yang termaktub dalam karyanya yang berjudul Mu’jam Maqayis al-Lughah, beliau berpendapat bahwa “uswah” berarti “qudwah” yang artinya ikutan, mengikuti yang diikuti.[3]
Hal ini sesuai yang terkandung dalam surah al-Ahzab [33] ayat 21:
Terjemahnya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[4]
Ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad Saw ke permukaan bumi ini adalah sebagai contoh atau teladan yang baik bagi umatnya. Beliau selalu terlebih dahulu mempraktekkan semua ajaran yang disampaikannya kepada umat, sehingga tidak ada celah bagi orang-orang yang tidak senang  untuk membantah dan menuduh bahwa Rasulullah Saw hanya pandai bicara dan tidak pandai mengamalkan. Praktek uswah ternyata menjadi pemikat bagi umat untuk menjauhi segala larangan yag disampaikan Rasulullah dan mengamalkan semua tuntunan yang diperintahkan oleh Rasulullah, seperti melaksanakan ibadah shalat, puasa, jual beli, dll.
Ayat di atas juga sering diangkat sebagai bukti adanya keteladanan dalam pendidikan. Muhammad Qutub misalnya mengisyaratkan sebagaimana yang dikutip oleh Abudin Nata dalam bukunya  Filsafat Pendidikan Islam bahwa: Pada diri  Nabi Muhammad Allah menyusun suatu bentuk sempurna yaitu bentuk yang hidup dan abadi sepanjang sejarah masih berlangsung.[5]
Jika pendidikan adalah melalui contoh, maka Rasul menempati posisi nomor wahid untuk di teladani, baru kemudian  faktor figur lain menjadi sangat penting, baik di rumah, sekolah maupun masyarakat. Siapakah figur sentral di rumah? Siapakah figur sentral di sekolah? Dan siapakah figur sentral di masyarakat? Karena dalam tahapan pertumbuhan dan proses belajar, ciri khas seorang yang menjadi teladan bagi anak-anak dan remaja sangatlah penting. Semakin sempurna seorang dewasa yang menjadi teladan bagi anak-anak, maka tingkat penerimaan dan keberlansung­annya juga semakin banyak. Lihat saja perilaku anak-anak, mereka sangat menyukai peri­laku orang yang diteladaninya dan dengan senang hati berusaha membentuk dirinya seperti orang yang diteladaninya itu.
Menurut Mangun Budiyanto bahwa apabila ittiba’  kepada Rasulullah, maka setiap pendidik/guru muslim seharusnya berusaha agar dapat menjadi uswatun hasanah, artinya bisa menjadi contoh teladan yang baik bagi perserta didiknya khususnya dan masyarakat pada umumnya,[6] meskipun diakui tidak mungkin bisa sama seperti keadaan Rasulullah, namun setidaknya harus berusaha ke arah itu.
Dengan demikian keteladanan adalah tindakan atau setiap sesuatu yang dapat ditiru atau diikuti oleh seseorang dari orang lain yang melakukakan atau mewujudkannya, sehingga orang yang di ikuti disebut dengan teladan. Namun keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik.[7] Sehingga dapat didefinisikan bahwa metode keteladanan (uswah) adalah metode pendidikan yang diterapkan dengan cara memberi contoh-contoh (teladan) yang baik yang berupa prilaku nyata, khusunya ibadah dan akhlak
Metode ini sangat tepat apabila digunakan untuk mendidik atau mengajar akhlak, karena untuk pelajaran akhlak dituntut adanya contoh teladan dari pihak pendidik atau guru itu sendiri. Terlabih bagi anak seusia sekolah dasar kebawah, yang masih didominasi oleh sifat-sifat imitasinya (serba meniru) terhadap apa yang di dengar dan diperbuat oleh orang-orang dewasa yang ada disekitranya.
B.     Prosedur Pelaksanaan Metode Uswah (Keteladanan)
Prosedur dalam pelaksanaan metode ini dilaksanakan dalam dua cara, yaitu:
1.      Secara langsung (direct)
Keteladanan yang dimaksud secara langsung di sini adalah bahwa pendidik/guru itu sendiri harus benar-benar menjadi dirinya sebagai contoh teladan yang baik kepada peserta didiknya.
Metode keteladanan sering juga di sebut thoriqotu bil uswatul khasanah. Nabi Muhammad Saw. Sebagai pendidik dan pengajar agung telah diberi anugarah predikat oleh allah Swt sebagai uswatuh hasanah. Apabila ittiba’ kepada Rasul, maka setiap pendidik atau guru muslim seharusnya berusaha agar dapat menjadi uswatun hasanah, artinya bisa menjadi contoh teladan bagi peserta didik khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya, meskipun diakui bahwa tidak mungkin sama seperti keadaan Rasulullah. Namun setidak-tidaknya, harus berusaha kearah itu.
Menurut Ibnu Muqaffa dalam Mangun Budiyanto bahwa hubungannya metode ini pernah mengingatkan orang yang mengajar dan mendidik dirinya sendiri adalah yang paling berhak untuk dihormati dan dimuliakan daripada orang yang hanya mengajar dan mendidik orang lain.[8]
Maka tepat sekali apa yang dipesankan Uyainah Bin Abi Sufyan dalm Fethullah Gulen kepada guru yang mengajar anaknya  bahwa hendaklah yang pertama-tama kamu lakukann di dalam memperbaiki anakmu, adalah perbaiki dulu dirimu sendiri. Karena sesungguhnya mata anak-anak itu hanya tertuju kapadamu. Maka, apa yag baik menurut mereka adalah apa yang kamu perbuat, dan apa yang jelek menurut mereka adalah apa yang kamu tinggalkan.[9] 
Pesan Uyainah bahwa pendidik menjadi sorotan mata peserta didik. Sehingga apa yang diperbuat pendidik/guru, apakah itu baik atau buruk akan memberi bekas yang kuat kepada peserta didik. Yang perlu diperhatikan adalah karakteristik pendidik itu sendiri dan adapun karakteristik pendidik atau guru teladan adalah:
a.       Karakteristik Akidah, Akhlak dan Prilaku. Yaitu pendidik atau guru harus mempunyai akidah yang bersih dari hal-hal yang bertentangan dengannya. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah swt. (muraqabah) dimanapun berada, melakukan koreksi diri (muhasabah) atas kelalaian dan kesalahan.[10] Menanamkan sikap tawadhu’ (rendah hati), jangan sampai timbul perasaan ujub, karena orang yang tawadhu’ akan diangkatkan derajatnya oleh Allah Swt. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Qashash [28] ayat 83:
Terjemahnya:
Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik)  itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.[11]
Dari ayat di atas dapat tipahami bahwa tawadhu’ dan rendah diri kepada manusia merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang tawadhu’ kepada-Nya.
Guru harus berakhlak mulia, berkelakuan baik, dan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan hal itu, baik di dalam maupun di luar kelas. Mampu mengatur waktu dengan baik, sehingga tidak ada waktu yag terlewatkan tanpa mendatangkan manfaat duniawi dan ukhrawi. Senantiasa melandaskan niat ibadah kepada Allah ketika mengajarkan ilmu. Tidak semata-mata mengandalkan kemampuan dan usaha belaka dalam mengajar, tetapi juga berdo’a meminta taufiq serta pertolongan dari Allah Swt.
Pendidik harus menjadi teladan pada peserta didik dalam segala perkataan, perbuatan dan prilaku. Pendidik/guru harus selalu jujur, adil, berkata yang baik, dan memberi nasihat serta pengarahan kepada anak didik.
b.      Karakteristik Profesional. Profesi pendidik atau guru adalah profesi yang sangat mulia.Risalah yang diemban guru sangat agung. Seorang guru harus memiliki bekal dan persiapan agar dapat menjalankan profesi dan risalahnya.[12] Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang guru dan dibutuhkan dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut: Menguasai materi pelajaran dengan matang melebihi peserta didiknya dan mampu memberikan pemahaman kepada mereka secara baik, memiliki kesiapan alami (fitrah) untuk menjalani proses mengajar, seperti pemikiran yang lurus, bashirah yang jernih, tidak melamun, berpandangan jauh ke depan, cepat tanggap, dan dapat mengambil tindakan yang tepat pada saat-saat kritis, menguasai cara-cara mengajar dan menjelaskan. Dia mesti menelaah buku-buku yang berkaitan dengan bidang studi yang diajarkannya. Sebelum memasuki pelajaran, guru harus siap secara mental, fisik, waktu dan ilmu (materi).[13]
Maksud kesiapan mental dan fisik adalah tidak mengisi pelajaran dalam keadaan perasaan yang kacau, malas ataupun lapar. Kesiapan waktu adalah dia mengisi pelajaran itu dengan jiwa yang tenang, tidak menghitung tiap detik yang berlalu, tidak menanti-nanti waktu usainya atau menginginkan para siswa membaca sendiri tanpa diterangkan maksudnya, atau menghabiskan jam pelajaran dengan hal-hal yang tidak ada gunanya bagi siswa.Sedangkan maksud kesiapan ilmu adalah dia menyiapkan materi pelajaran sebelum masuk kelas. Dia menyiapkan apa yang dikatakannya. Sebiasa mungkin, dia menghindari spontanitas dalam mengajar jika tidak menguasai materinya. 
2.      Secara tidak langsung (non-direct) 
Secara tidak langsung (non-direct) maksudnya adalah dengan menceritakan  kisah-kisah atau riwayat-riwayat orang-orang besar, para pahlawan, para syuhada, termasuk para nabi. Dengan mengambil kisah-kisah atau riwayat-riwayat yang demikian itu diharapkan peserta didik akan menjadikan tokoh-tokoh ini sebagai uswatun hasanah.
Salah satu kisah yang dapat dijadikan teladan adalah kisah Rasulullah Muhammad Saw. Beliau merupakan pribadi yang sukses menampilkan dirinya sebagai sosok yang memang pantas ditiru dan diteladani.
Telah diketahui bersama bahwa Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw agar menjadi teladan bagi seluruh manusia dalam merealisasikan sistem pendidikan. Setiap prilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari merupakan prilaku Islami yang bersumber dari alquran. Aisyah ra sendiri pernah berkata bahwa akhlak beliau adalah alquran.
Hal ini sesuai dengan fairman Allah dalam sutah  al-Fath [48] ayat 29:
Terjemahnya:
Muhammad itu adalah utusan Allah Swt yang orang-orang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih saying terhadap sesama mereka, kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah Swt …”.[14]
Dari ayat di atas bahwa Rasul sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, pembawa risalah abadi, kesempurnaannya menyeluruh dan universal, baik yang berhubungan dengan masalah ibadah, atau yang menyangkut kepatuhan atau kesabaran. Ini semua perlu diteladani dengan harapan agar kita menjadi manusia yang bermental Islami yang seluruh aspek kejiwaannya didasari dengan nilai-nilai luhur alquran dan hadits.
C.    Implementasi Metode Keteladanan dalam Realitas Pendidikan
Tinjauan dari sudut ilmiah menunjukkan bahwa pada dasarnya keteladanan memiliki sejumlah azas kependidikan yaitu sebagai berikut:
Pertama, metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang senantiasa mengarah pada perbaikan sikap atau dikenal dengan budi pekerti. Dengan demikian, seorang pendidik dituntut untuk menjadi teladan di hadapan peserta didiknya, bersegera untuk berkorban, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang hina. Dengan begitu, para pendidik dan orang tua harus menyempurnakan dirinya dengan akhlak mulia.
Kedua, sesungguhnya kepribadian Rasulullah Saw sebagai teladan abadi dan aktual bagi pendidik dan generasi muda sehingga setiap kali kita membaca riwayat beliau, semakin bertambahlah kecintaan dan hasrat kita untuk meneladani beliau.[15] Yang perlu kita garis bawahi, Islam tidak menyajikan keteladanan ini untuk menunjukkan kekaguman, tetapi Islam menyajikan keteladanan ini agar manusia menerapkan suri teladan ini kepada dirinya sendiri dan untuk peserta didik serta manusia secara umum.
Dilihat dari hasil pengaplikasiannya keteladanan terpecah menjadi dua ranah yaitu :
  1. Pengaruh langsung yang tidak disengaja
Keberhasilan tipe peneladanan ini banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik yang diteladankan, seperti: keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, atau lain sebagainya. Dalam kondisi ini pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa disengaja.[16] Ini berarti bahwa setiap pendidik yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara tingkah lakunya dalam proses pembelajaran.
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk peserta didik dalam moral, spiritual dan sosial. Hal ini karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan peserta didik, yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya, dan tata santunnya, disadari ataupun tidak, bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan, baik material atau spiritual, diketahui atau tidak diketahui. 
  1. Pengaruh yang Sengaja
Kadangkala peneladanan diupayakan secara sengaja. Maka umpamanya guru memberikan contoh membaca yang baik agar para pelajar menirunya, imam membaikkan shalatnya untuk mengajarkan shalat yang sempurna kepada orang-orang, dan komandan maju ke depan barisan di dalam jihad untuk menanamkan keberanian, pengorbanan, dan kegigihan di dalam jiwa pasukannya.[17]
Dari sini dapat dilihat bahwa keteladanan dalam kehidupan sehari-hari memberikan implikasi yang luar biasa, begitu juga dalam pendidikan. Untuk itu seyogyanya sebagai pendidik harus merealisasikan keteladanan dalam proses pendidikan.
Dengan demikian keteladanan adalah sesuatu yang sangat di harapkan untuk memberikan efek positif kepada lingkungan pendidikan baik pendidikan di sekolah maupun pendidikan di rumah, menselaraskan antara perkataan dan perbuatan adalah keharusan sehingga pendidik dan orang tua menjadi figur yang dapat ditiru oleh peserta didik maupun anaknya.
D.    Kelebihan Dan Kekurangan Metode Uswah (Keteladanan)
Metode keteladanan juga memiliki kelebihan  dan kekurangan sendiri, sebagaimana lazimnya metode-metode lainnya. Secara sederhana berkaitan dengan penerapannya dalam proses mengajar kelebihan dan kekurangan metode keteladanan dapat dijelaskan yaitu sebagai berikut:
  1. Kelebihan Metode Uswah (Keteladanan)
Kelebihan Penggunaan metode uswah atau keteladanan dalam proses pembelajaran diantaranya sebagai berikut:
a)      Metode keteladanan dapat menciptakan hubungan harmonis antara pendidik dengan peserta didik
b)      Dengan metode keteladanan tujuan guru yang ingin dicapai menjadi lebih terarah dan tercapai dengan baik.
c)      Dengan metode keteladanan guru secara tidak langsung dapat mengimplementasikan ilmu yang diajarkannya.
d)     Metode keteladanan juga mendorong guru untuk senantiasa berbuat baik karena menyadari dirinya akan dicontoh oleh muridnya.[18]
Dari kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa metode keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan, dimana selain diajarkan secara teoritis peserta didik juga bisa melihat secara langsung bagaimana praktik atau pengamalan dari pendidiknya yang kemudian bisa dijadikan teladan atau contoh dalam berprilaku dan mengamalkan atau mengaplikasikan materi pendidikan yang telah dia pelajari selama proses belajar menganjar berlangsung.
  1. Kekurangan Metode Uswah (Keteladanan)
Selain mempunyai kelebihan dan keunggulan dibandingkan dengan metode lainnya, dalam penerapannya metode keteladanan juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan, diantaranya yaitu sebagai berikut:
a)      Jika dalam proses belajar mengajar figur yang diteladani dalam hal ini pendidik  tidak baik, maka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula.
b)      Jika dalam proses belajar menganjar hanya memberikan teori tanpa diikuti dengan  implementasi maka tujuan pendidikan yang akan dicapai akan sulit terarahkan.[19]
Dari serangkaian kelebihan dan juga kekurangan yang telah dijelaskan di atas dapat dikatakan bahwa, metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai pengaruh dan terbukti bisa dikatakan efektif dengan berbagai kelebihannya, meskipun juga tidak terlepas dari kekurangan, dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak didik, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak, akan ditiru atau diteladani oleh peserta didiknya.
Jadi dari kelebihan dan kekurangan diatas dapat terlihat betapa sentralnya peranan guru dalam hal ini merupakan sosok kunci yang akan memberikan telardan kepada peserta didik, dan juga sosok yang akan dijadikan model atu teladan oleh peserta didik, jadi dalam hal ini sukses atau tidaknya metode keteladalan dalam suatu pembelajran sangat tergantung pada sosok guru yang diteladani.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al- Mumtahanah [60] ayat 6:
Terjemahnya:
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[20]
 Ayat diatas memperlihatkan bahwa kata uswah selalu digandengkan dengan sesuatu yang positif “hasanah” atau yang baik dan suasana yang sangat menyenangkan yaitu bertemu dengan Tuhan sekalian alam.
Oleh karena itu, keteladanan yang baik adalah salah satu metode  yang bisa diterapkan untuk merealisasikan tujuan pendidikan. Hal ini karena keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan, dan juga dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai pendidikan Islam terutama pendidikan ibadah dan pendidikan akhlak.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2007.
Budiyanto, Mangun. Ilmu Pendiidkan Islam, Yogyakarta: Griya Santri,2011.
Departemen Agama RI. Alqur'an dan Terjemahannya Juz 1-30. Surabaya: MEKAR. 2016.
Direktorat Profesi Pendidik, Pedoman Penilaian Guru Berprestasi. Jakarta: Depdikns,2008.
El Rais, Heppy.   Kamus Ilmiah Populer, Cet. 1; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Gulen, M. Fethullah. Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah Saw. Di Terjemahkan Oleh: Tri Wibowo Budi Santoso, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2008.
Hidayat, Nurul. 2015. “Metode Keteladanan dalam Pendidikan Islam”  Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam  Vol. 3, No.2 (2015): h. 47.
Mamayulis. Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010.
Mangun Budiyanto. Ilmu Pendiidkan Islam, Yogyakarta: Ombak, 2013.
Nata,Abudin. Filafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Sitompul, Hafsa. 2016. “Metode Keteladanan Dan Pembiasaan Dalam Penanaman Nilai-Nilai Dan Pembentukan Sikap Pada Anak” Jurnal Darul ‘Ilmi Vol. 4, No.1 (2016): h. 60
Sukarno. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Surabaya: Elkaf,2012
Sulaiman M. 2016. “Mendidik dengan tauladan. Jurnal studi Islam” Jurnal Studi Islam Vol. 11, No.1: (2016): h. 43.
Syahidin. Metode Pendidikan Qur`ani: Teori dan Aplikasi, Jakarta: Misaka Galiza, 2009.
Uzer Usman,  Moh. Menjadi Guru Profesional, Edisi ke dua Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
Warson Munawwir, Ahmad. Kamus Al-Munawwir Indonesia Dan Arab, Surabaya : Pustaka Progressif,2007.




[1]El Rais, Heppy.,  Kamus Ilmiah Populer, (Cet. 1; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 656.
[2]Ahmad Warson Munawwir. Kamus Al-Munawwir Indonesia Dan Arab, (Surabaya : Pustaka Progressif,2007), h. 614
[3]Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 200, Cet. 2, h.117
[4]Departemen Agama RI. Alqur'an dan Terjemahannya Juz 1-30. (Surabaya: MEKAR. 2016), h. 420.
[5]Abudin, Nata, Filafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2008),  h. 95.
[6] Mangun Budiyanto, Ilmu Pendiidkan Islam, (Yogyakarta: Ombak, 2013), h. 149.
[7] Hafsa sitompul. 2016. “Metode Keteladanan Dan Pembiasaan Dalam Penanaman Nilai-Nilai Dan Pembentukan Sikap Pada Anak” Jurnal Darul ‘Ilmi Vol. 4, No.1 (2016): h. 60
[8]Mangun Budiyanto, Ilmu Pendiidkan Islam,.....h. 149.
[9]M. Fethullah Gulen, Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah Saw. Di Terjemahkan Oleh: Tri Wibowo Budi Santoso, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2002), 197.
[10] M Sulaiman. 2016. “Mendidik dengan tauladan. Jurnal studi Islam” Jurnal Studi Islam Vol. 11, No.1: h. 43.
[11]Departemen Agama RI. Alqur'an dan Terjemahannya Juz 1-30,......,h. 395.
[12]Nurul Hidayat.2015. “Metode Keteladanan dalam Pendidikan Islam”  Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam  Vol. 3, No.2 (2015): h. 47.
[13]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Edisi ke dua (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 37.
[14] Departemen Agama RI. Alqur'an dan Terjemahannya Juz 1-30,......, h. 515
[15]Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi: Aplikasi Strategi Dan Model Kecerdasan Spiritual Rasulullah Di Masa Kini, (Jogjakarta: IRcisoD, 2006), h. 96.
[16] Syahidin, Metode Pendidikan Qur`ani: Teori dan Aplikasi, (Jakarta: Misaka Galiza, 2009), hal. 45.
[17]M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 35.
[18] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,.....h.123
[19] Sukarno. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Surabaya: Elkaf,2012), h. 86.
[20] Departemen Agama RI. Alqur'an dan Terjemahannya Juz 1-30,....h. 550.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar